GridOto.com - Pemerintah China akan mengakhiri berbagai insentif pajak tahunan untuk kendaraan energi baru (New Energy Vehicle/NEV) dan mobil hemat energi secara bertahap mulai 1 Januari 2027.
Langkah ini memperpanjang tren pengurangan insentif secara bertahap oleh pemerintah, setelah sebelumnya sukses membangun pasar kendaraan listrik (EV) terbesar di dunia.
Kementerian Keuangan, Administrasi Perpajakan Negara, serta Kementerian Industri dan Teknologi Informasi China mengumumkan pada hari Jumat bahwa mereka akan menghentikan diskon pajak setengah harga (half-rate) untuk mobil berbahan bakar hemat energi.
Selain itu, pemerintah juga akan menghapus pembebasan pajak bagi kendaraan komersial bertenaga baterai murni, mobil hybrid (baik tipe plug-in maupun range-extender), serta kendaraan komersial berbahan bakar hidrogen (fuel-cell).
Beberapa kementerian tersebut menjelaskan bahwa langkah ini diambil untuk "mendorong keadilan pajak dan memperkuat peran perpajakan dalam mengatur distribusi pendapatan".
Mereka mencatat bahwa rata-rata harga jual mobil penumpang tipe plug-in dan range-extender hybrid pada tahun 2025 sudah mencapai 218.000 yuan (sekitar Rp513 juta), bahkan beberapa model ada yang harganya menembus lebih dari 1 juta yuan (sekitar Rp2,3 miliar).
Pajak kendaraan tahunan di China biasanya berkisar hanya beberapa ratus yuan saja untuk sebagian besar mobil penumpang.
Melansir SouthChinaMorningPost, Pemerintah China sendiri sudah memberikan potongan hingga pembebasan pajak penuh untuk kendaraan hemat energi dan NEV yang memenuhi syarat sejak tahun 2012.
Baca Juga: Mobil Listrik Bekas Cuma Butuh Seminggu Buat Laku, Ternyata Ini Rahasianya
Cui Dongshu, Sekretaris Jenderal Asosiasi Mobil Penumpang China (CPCA), menilai bahwa pemilik mobil plug-in hybrid nantinya hanya perlu membayar sekitar 300 hingga 400 yuan (sekitar Rp 700 ribu - Rp 900 ribu) lebih banyak per tahun.
Menurutnya, kenaikan ini kemungkinan besar tidak akan memengaruhi keputusan konsumen dalam membeli mobil.
"Dalam jangka panjang, kebijakan pajak otomotif akan makin berbasis pasar, mengarahkan sumber daya industri secara khusus ke teknologi listrik murni," kata Cui.
Sebagai catatan, mobil penumpang berbasis baterai murni (BEV) dan berbahan bakar hidrogen tidak terdampak oleh kebijakan ini, karena aturan pajaknya dihitung berdasarkan kapasitas mesin (cc).
Langkah ini mempertegas komitmen Beijing untuk menyapih industri NEV dari subsidi pemerintah secara perlahan.
Sejak Januari 2026, kendaraan energi baru sudah mulai dikenakan pajak pembelian setengah harga setelah masa pembebasan pajaknya berakhir, meski subsidi tukar-tambah (trade-in) hingga 20.000 yuan (sekitar Rp 47 juta) masih tersedia.
Asosiasi Produsen Otomotif China menyebut bahwa perubahan kebijakan ini, ditambah dengan sikap konsumen yang lebih hemat, menjadi salah satu pemicu turunnya angka penjualan NEV sebesar 23,8 persen secara tahunan (year-on-year) pada kuartal pertama.
Baca Juga: Mobil China Menggila di Malaysia, Penjualan Meroket Hanya dalam 4 Tahun
Di sisi lain, pengurangan insentif di dalam negeri ini terjadi justru saat merek mobil penumpang asal China makin taji di Eropa.
Menurut data terbaru dari Asosiasi Produsen Otomotif Eropa, pangsa pasar mobil China berhasil menyalip rival-rival mereka dari Jepang untuk pertama kalinya pada Mei lalu.
Sementara itu, menurut laporan dari media Handelsblatt, Komisi Eropa kabarnya sedang bersiap menerapkan bea masuk anti-subsidi untuk mobil plug-in hybrid asal China, sambil menunggu persetujuan dari negara-negara anggotanya.
| Editor | : | Panji Nugraha |
KOMENTAR