GridOto.com - Pasar mobil listrik bekas di Indonesia mulai menunjukkan pola depresiasi yang berbeda pada masing-masing merek.
Sekretaris Jenderal Asosiasi Mobil Bekas Indonesia (AMBI) Ricky Prawiro mengatakan, Hyundai IONIQ menjadi salah satu model yang mengalami penurunan harga cukup signifikan di pasar mobil bekas.
"Kalau IONIQ, depresiasinya memang sudah cukup jauh. Bahkan bisa mencapai sekitar 50 persen dari harga barunya," ujar Ricky kepada GridOto.com belum lama ini.
Menurutnya, salah satu faktor yang memengaruhi penurunan nilai jual kembali tersebut adalah adanya penyesuaian harga jual mobil baru oleh pabrikan.
"Awalnya dijual di kisaran Rp 800 jutaan, kemudian harga mobil barunya mengalami penyesuaian. Kondisi itu tentu ikut memengaruhi harga unit bekas di pasar," jelasnya.
Berbeda dengan Hyundai IONIQ, Sekjen AMBI menilai harga bekas mobil listrik BYD hingga saat ini masih relatif stabil.
"BYD masih cukup kuat. Nilai jual kembalinya sejauh ini masih terjaga," katanya.
Sementara itu, kondisi berbeda terjadi pada beberapa model Wuling.
Menurutnya, penyesuaian harga mobil baru juga berdampak terhadap nilai jual kembali mobil bekas.
Baca Juga: Fitur-Fitur BYD Racco Sudah Bocor, Dapat Delapan Fitur Canggih Ini
"Wuling juga mengalami kasus yang hampir sama. Ketika harga mobil baru disesuaikan, depresiasi unit bekasnya ikut meningkat," ujarnya.
Di sisi lain, Sekjen AMBI menilai tantangan terbesar dalam transaksi mobil listrik bekas saat ini adalah penilaian kondisi baterai.
"Hingga sekarang, penilaian mobil listrik bekas memang masih menjadi tantangan. Menurut saya, yang paling penting adalah melihat battery health," katanya.
Ia menjelaskan, kondisi kesehatan baterai menjadi faktor utama karena merupakan komponen dengan nilai paling tinggi pada mobil listrik.
"Karena komponen termahal dari mobil listrik adalah baterainya. Kalau kondisi baterainya sudah menurun, tentu akan sangat memengaruhi nilai kendaraan," jelasnya.
Oleh sebab itu, ia menyarankan agar setiap mobil listrik bekas menjalani pemeriksaan di bengkel atau dealer resmi untuk mengetahui kondisi battery health sebelum dilakukan transaksi.
"Mobil sebaiknya dicek terlebih dahulu di dealer resmi untuk mengetahui battery health-nya," ucapnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa perusahaan pembiayaan (leasing) masih berhati-hati dalam memberikan pembiayaan untuk mobil listrik bekas karena mempertimbangkan risiko penurunan nilai kendaraan.
Baca Juga: Apa Itu Battery Health? Ini Penjelasannya untuk Pengguna Mobil Listrik
"Saya sempat berdiskusi dengan beberapa perusahaan leasing mengenai penilaian mobil listrik. Saya meyakinkan mereka agar tetap mau membiayai mobil listrik karena saya melihat pasar ini masih memiliki potensi," tuturnya.
Menurutnya, minat konsumen, khususnya dari kalangan Gen Z, menjadi salah satu faktor yang membuat prospek mobil listrik bekas tetap menjanjikan.
"Pembeli dari kalangan Gen Z sekarang memang banyak yang menginginkan mobil listrik," pungkasnya.
| Editor | : | Naufal Nur Aziz Effendi |
KOMENTAR