Menurut Johannes, perubahan tersebut didorong oleh kondisi berkendara yang semakin kompleks, sehingga visor helm dituntut mampu beradaptasi dengan berbagai situasi.
Ia mencontohkan, kaca helm ke depan harus mampu menyesuaikan diri terhadap intensitas cahaya matahari, kondisi hujan, embun yang mengganggu pandangan, hingga paparan lampu LED dari kendaraan lain.
"Artinya kaca harus disesuaikan dengan cahaya matahari, hujan, fogging mata, LED light, dan lain-lain," ujarnya.
Khusus untuk teknologi RHD Lens, Johannes menyebut fitur tersebut menjadi semakin relevan karena kini hampir seluruh kendaraan sudah menggunakan lampu LED.
Menurutnya, cahaya LED memiliki spektrum yang berbeda dibanding lampu halogen sehingga berpotensi lebih menyilaukan pengendara jika tidak diantisipasi.
"Sekarang di jalanan hampir semua kendaraan pakai LED light. Jadi RHD Lens itu perlu untuk bisa meredam spektrum warna LED light," ungkap Johannes.
Sementara itu, fitur anti-fog diprediksi akan mengikuti jejak anti-scratch yang kini sudah menjadi fitur wajib pada helm modern.
"Anti-fog itu nanti akan seperti fiturnya anti-scratch di tahun 2000-an awal," pungkasnya.
| Editor | : | Panji Nugraha |
KOMENTAR