Jika terjebak di area ini, segera kurangi kecepatan atau salip dengan aman untuk keluar dari zona bahaya.
Antisipasi Turbulensi Efek Dorong dan Isap
Saat melaju di samping kendaraan besar yang kencang, motor akan dihantam turbulensi angin.
Di bagian depan truk, embusan angin bisa mendorong motor ke samping.
Sebaliknya, di sisi badan hingga bagian belakang truk, akan muncul efek isap yang menarik motor mendekat ke ban truk.
Untuk mengantisipasinya, posisikan tangan memegang setang dengan rileks namun tetap kokoh.
Jaga keseimbangan dengan merapatkan lutut ke tangki (motor sport) atau rapatkan kaki pada dek (motor matik).
Patuhi Protokol Aman Menyalip
Para pengendara dilarang keras menyalip truk dari sisi kiri karena merupakan area blind spot utama dan kondisi bahu jalan kerap tidak ideal.
Jika ingin menyalip dari kanan, wajib berikan jarak sekitar 10–15 meter di belakang truk sebagai ancang-ancang.
Jarak ini krusial agar pandangan luas untuk melihat situasi jalan di depan truk.
Kemudian nyalakan lampu sein kanan, kedipkan lampu dim (pass beam) sebanyak 2–3 kali, atau bunyikan klakson pendek untuk memberi tahu sopir truk bahwa ada motor yang hendak mendahului.
Pastikan ruang di depan truk kosong minimal sejauh 50 meter.
Begitu dirasa aman, puntir tuas gas secara konstan dan lewati truk dengan cepat, jangan pernah menggantung kecepatan terlalu lama di samping badan truk.
Jaga Jarak Aman saat Berhenti di Belakang Truk
Ketika terjebak kemacetan atau antrean di jalur tanjakan dan turunan, jangan berhenti terlalu dekat di belakang truk.
Kendaraan berat memiliki risiko mundur sesaat ketika pengemudinya melakukan perpindahan gigi, atau bahkan berpotensi gagal menanjak.
Berikan ruang yang cukup di belakangnya agar Anda masih memiliki celah manuver untuk menghindar jika truk tiba-tiba bergerak mundur.
Melalui teknik visual dan spasial yang matang ini, diharapkan para pemotor tidak lagi berspekulasi secara berbahaya saat bertarung di samping para raksasa jalanan.
| Editor | : | Dida Argadea |
KOMENTAR