GridOto.com - Buat masyarakat Indonesia pasti sudah tak asing lagi dengan motor jambret alias Yamaha RX-King yang seliweran di jalanan.
Namun sedikit yang masih paham mengenai perjalanan motor ini di Indonesia.
Di balik nama besar RX-King, ada sejarah panjang yang melibatkan banyak anggota keluarga RX lainnya.
1. Yamaha RX100 (1977)
Inilah kakek buyut dari seluruh lini RX di tanah air yang mengaspal pertama kali pada tahun 1977.
Berbekal mesin 2-tak berkapasitas 100 cc, motor ini mampu menyemburkan tenaga 11,5 dk dan menembus kecepatan maksimal hingga 110 km/jam.
Daya tarik utamanya terletak pada efisiensi bahan bakar; meski bermesin 2-tak, satu liter bensinnya sanggup menempuh jarak sekitar 40 km.
Catatan: Sebelum era ini, sempat hadir RX125 Twin pada 1976, namun model tersebut aslinya merupakan rebrand dari seri RD125, bukan murni trah RX.
Baca Juga: Siap Gaspol Harian Sampai Turing, Segini Biaya Restorasi Mesin Vespa 2-Tak
2. Yamaha RX125 (1979)
Meluncur dua tahun setelah sang pendahulu, generasi RX125 mengusung mesin silinder tunggal berkapasitas murni 123 cc.
Tenaganya meningkat menjadi 13 dk. Mengikuti jejak RX100, sistem transmisi pada motor ini masih mengandalkan konfigurasi 4-percepatan.
3. Yamaha RX-K (1980)
Motor inilah yang menjadi cetak biru langsung dari lahirnya sang "Raja".
Yamaha RX-K sudah dipersenjatai mesin tangguh berkapasitas 135 cc dengan semburan daya mencapai 17,5 dk, serta sanggup dipacu hingga kecepatan 150 km/jam.
Didatangkan secara utuh (CBU) dari Jepang, ciri khasnya adalah penggunaan kedok lampu alias bikini fairing.
Sayangnya, masa edar motor ini tergolong singkat karena kurang direspons positif oleh pasar saat itu dan berakhir disuntik mati pada tahun 1983.
Baca Juga: Kisah Ibu Guru Dengan Vespa 2-Tak, Berawal Dari Kenangan Bapak
4. Yamaha RX-S (1981)
Untuk mengisi celah pasar, Yamaha merilis RX-S dengan kubikasi mesin yang lebih kecil, yaitu 115 cc.
Sama seperti RX-K, unit RX-S dipasarkan di Indonesia lewat skema impor utuh dari Jepang sepanjang periode tahun 1981 sampai 1983.
5. Yamaha RX-Special (1983)
Kehadiran seri ini sempat membuat peta persaingan motor 2-tak semakin padat.
Secara teknis, RX-Special merupakan versi pengembangan estetika dari RX-S, sehingga dapur pacu yang digunakannya pun masih mengadopsi basis mesin 115 cc yang sama.
6. Yamaha RX-King Cobra (1983)
Inilah titik balik lahirnya legenda otomotif Indonesia.
Dirancang berdasarkan riset mendalam terhadap kebutuhan konsumen lokal, generasi perdana RX-King ini dijuluki "Cobra" karena siluet tangki dan bentuk setangnya yang ikonik.
Keistimewaan utamanya terletak pada sektor mesin berkode Y1 atau Y2 yang masih diimpor langsung dari Jepang, sementara rangkanya sudah diproduksi di dalam negeri.
Racikan mesin 135 cc miliknya mampu memuntahkan tenaga sebesar 18,2 dk dengan torsi puncak mencapai 15,1 Nm. Unit ini menjadi salah satu buruan paling bernilai tinggi bagi para kolektor saat ini.
Baca Juga: Sedikit yang Paham, Ini Penyebab Knalpot Motor 2-Tak Ngebulnya Kebangetan
7. Yamaha RX-Z (1985)
Meskipun lahir dari rahim yang sama dengan RX-King, RX-Z memilih arah desain yang berbeda. Perbedaan fundamental terletak pada konfigurasi mesinnya:
Perbedaannya dengan RX King di panjang langkah silinder RX-Z yang 56 x 54 mm, sedangkan RX-King 58 x 50 mm.
Makanya RX-Z punya tagline sang penjelajah, karena memang tarikan napasnya lebih panjang saat digeber.
Desainnya pakai kedok lampu, undercowl, sampai model knalpotnya bikin RX-Z terlihat lebih modern dan racy dibandingkan RX-King. Oh ya, ada versi full fairing dari RX-Z yang diberi nama Yamaha RZ-R.
Secara tampilan, RX-Z terlihat jauh lebih modern dan bergaya balap berkat aplikasi kedok lampu, komponen pelindung mesin (*undercowl*), dan desain knalpot yang sporty. Varian ini juga memiliki kembaran berbodi penuh (*full fairing*) yang dinamai Yamaha RZ-R.
8. Yamaha RX-R (1988)
Varian ini tergolong asing di telinga karena populasinya yang sangat langka.
Menggunakan basis mesin 115 cc milik RX-Special namun dibalut dengan baju dan rangka yang menyerupai RX-King, posisinya di pasar menjadi nanggung dan kurang diminati pada masanya.
Namun saat ini, tingkat kelangkaannya membuat RX-R bertransformasi menjadi salah satu barang koleksi berharga mahal.
9. Yamaha RX-King Master (1996)
Menjadi penerus takhta dari generasi Cobra, RX-King Master mengaspal sejak tahun 1996 hingga 2001.
Perbedaan paling mendasar dari generasi sebelumnya adalah proses produksi blok mesinnya yang sudah sepenuhnya dialihkan dan dirakit secara lokal di Indonesia.
10. Yamaha New RX-King (2002-2009)
Ini adalah edisi penutup dari sejarah panjang dinasti RX-King sebelum akhirnya terbentur regulasi ambang batas emisi gas buang.
Demi menekan polusi, Yamaha menyematkan komponen *catalytic converter* pada saluran pembuangannya.
Hasilnya, motor ini tidak lagi mengeluarkan asap pekat khas 2-tak, hingga sempat diplesetkan sebagai "RX-King 4-tak".
Pada varian pamungkas ini, desain lampu utamanya kembali mengadopsi bentuk bulat klasik seperti era awal RX100.
Era ini berakhir dengan disuntik matinya motor ini pada 2009.
| Editor | : | Naufal Nur Aziz Effendi |
KOMENTAR