Pendapat serupa disampaikan Aldi (23), yang menilai keterbatasan lahan parkir resmi menjadi salah satu penyebab utama masih maraknya jukir liar.
Ia menyebut, ketika area parkir utama seperti basement sudah penuh, pengunjung tidak memiliki banyak pilihan selain memanfaatkan parkir tidak resmi.
Ia menyarankan agar patroli dilakukan setiap hari dengan kehadiran minimal satu hingga dua petugas untuk mengawasi kondisi di lapangan.
Aldi juga menambahkan bahwa penambahan kapasitas parkir resmi menjadi kebutuhan mendesak.
Berdasarkan pantauan di lokasi, area parkir bawah tanah terlihat sangat padat, bahkan sejumlah motor diparkir hingga melewati akses masuk, menandakan kondisi yang sudah melebihi kapasitas.
Di sisi lain, area parkir di lantai atas Blok M Square justru kurang diminati.
Baca Juga: Ditanya Atribut dan KTA, Tukang Parkir Liar di Surabaya Ancam Bunuh Pengendara Motor
Salah satu penyebabnya adalah akses menuju area utama yang dinilai kurang praktis.
Bima (27) mengungkapkan bahwa penggunaan lift yang sering penuh membuat pengunjung enggan memarkir kendaraan di area tersebut, terlebih karena harus berbagi dengan pengguna mobil, sehingga waktu tunggu menjadi lebih lama.
Sebelumnya, petugas Suku Dinas Perhubungan bersama Satpol PP Jakarta Selatan telah melakukan penertiban terhadap jukir liar di kawasan tersebut pada 31 Maret 2026.
Menukil Kompas.com, Kepala Suku Dinas Perhubungan Jakarta Selatan, Bernard Pasaribu, menyebutkan bahwa setidaknya 10 juru parkir liar telah didata dan diminta menandatangani surat pernyataan agar tidak kembali beroperasi.
Ia menegaskan, pihaknya akan mengambil tindakan lanjutan jika pelanggaran kembali terjadi.
| Editor | : | Dida Argadea |
KOMENTAR