Akibat blokade tersebut, banyak negara mengalami gangguan pasokan, bahkan sebagian mengalami kelangkaan karena sekitar 30 persen distribusi minyak dari kawasan Teluk terdampak.
Negara-negara di Asia yang sangat bergantung pada jalur ini mulai menerapkan kebijakan darurat, termasuk pembatasan penggunaan BBM.
Krisis ini juga merembet ke sektor lain, seperti naiknya harga pangan dan barang konsumsi akibat meningkatnya biaya energi dan logistik.
Gangguan juga berpotensi meluas ke jalur perdagangan lain seperti Bab el-Mandab dan Terusan Suez, yang bisa memaksa kapal memutar jalur lebih jauh dan meningkatkan biaya pengiriman.
Menurut Nailul Huda dari Celios, penutupan Selat Hormuz akan mengurangi pasokan minyak global secara signifikan sehingga mendorong kenaikan harga.
Menukil Tribunnews, ia menilai kondisi ini bisa membebani anggaran negara, terutama karena meningkatnya kebutuhan subsidi energi.
Dampaknya juga dirasakan Indonesia, mulai dari potensi kenaikan harga BBM, meningkatnya biaya impor, hingga risiko inflasi akibat naiknya harga barang.
Jika harga energi terus melonjak, beban fiskal diperkirakan semakin berat dan berpotensi memengaruhi stabilitas ekonomi nasional.
| Editor | : | Dida Argadea |
KOMENTAR