GridOto.com- LPEM FEB UI memprediksi kenaikan harga BBM yang akan diumumkan pada 1 April besok akan berdampak terhadap konsumsi Pertalite.
Dr. Riyanto, peneliti senior LPEM FEB UI mengatakan kenaikan ini memicu perpindahan konsumsi BBM non subsidi ke BBM subsidi.
"Dari pengalaman, ketika ada kenaikan harga BBM non subsidi, pola konsumsi berubah," bilangnya.
Menurutnya, asumsi harga minyak mentah di APBN 2026 berada di angka 70 US Dollar per barrel.
Sementara saat Februari harga rata-rata minyak mentah di kisaran 63 US Dollar per barrel.
Pasca serangan Amerika dan Israel ke Iran akhir Februari lalu sampai sekarang, haarga minyak berada di atas 100 US Dollar per barrel.
Kalau dari asumsi APBN, kenaikan harga minyak mentah di posisi Maret ini sudah naik di kisaran 45 persen.
"Makanya, pasti non subsidi akan naik," bilang Riyanto.
Baca Juga: Strategi Nasional Jaga Ketahanan Energi dan Hemat BBM, Masyarakat Tenang
Untuk subsidi BBM di 2026 sendiri, Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) menetapkan penurunan kuota bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi
Kuota untuk Jenis BBM Khusus Penugasan (JBKP) atau Pertalite pada 2026 sebesar 29.267.947 kl, turun 6,28 persen apabila dibandingkan dengan kuota Pertalite tahun 2025 sebesar 31.230.017 kl.
"Apabila harga minyak mentah naik terus, maka kuota BBM subsidi bisa jebol," jelas Riyanto.
Kalau angka subsidinya membengkak karena adanya kenaikan harga, maka pilihannya mengurangi kuota BBM subsidi.
"Mengurangi kuota BBM subsidi agak sulit," jelasnya.
Riyanto Atau melakukan penghematan di sektor lain agar beban APBN bisa berkurang.
| Editor | : | Hendra |
KOMENTAR