GridOto.com - Sampai saat ini masih banyak yang suka mencampur Pertamax dan Pertalite.
Hal ini dilakukan dengan tujuan mendapatkan bahan bakar yang dianggap lebih baik dengan harga lebih hemat.
Padahal, kedua produk keluaran Pertamina tersebut punya spesifikasi dan karakteristik yang jelas berbeda.
Pertamax memiliki angka oktan atau Research Octane Number (RON) 92, sedangkan Pertalite berada di RON 90.
Perbedaan nilai oktan ini berpengaruh langsung terhadap proses pembakaran dan tenaga yang dihasilkan mesin.
Dosen Teknik Mesin Universitas Gadjah Mada (UGM), Jayan Sentanuhady, menjelaskan bahwa jika kedua bahan bakar tersebut dicampur dalam perbandingan sama, misalnya 50:50, maka nilai oktannya berada di kisaran RON 91.
Angka ini berada di tengah, namun justru tidak lagi sesuai dengan standar awal masing-masing produk.
Menurut Jayan, perubahan nilai oktan tersebut dapat membuat proses pembakaran tidak optimal sehingga performa mesin berpotensi menurun.
Baca Juga: Pertamina Siapkan 2.074 SPBU Beroperasi 24 Jam di Jalur Utama Mudik
Ia menambahkan, bagi pengguna yang sebelumnya terbiasa memakai Pertalite, campuran tersebut mungkin terasa sedikit lebih baik.
Namun untuk kendaraan yang direkomendasikan menggunakan Pertamax, pencampuran justru bisa berdampak kurang menguntungkan.
Melansir Kompas.com, ahli konservasi energi dari Fakultas Teknik dan Dirgantara Institut Teknologi Bandung (ITB), Tri Yuswidjajanto Zaenuri juga menngiyakan hal tersebut.
Ia menjelaskan bahwa Pertamax mengandung aditif pembersih, sementara Pertalite tidak.
Jika keduanya dicampur, komposisi aditif tersebut menjadi tidak seimbang dan dapat memicu pembentukan kerak karbon lebih banyak di ruang bakar.
Kerak karbon yang menumpuk bisa memengaruhi efisiensi pembakaran dan menurunkan performa mesin. Karena itu, pencampuran dua jenis bensin berbeda tidak disarankan.
Sementara itu, Hardi Wibowo, pemilik bengkel spesialis Nissan dan Honda di Yogyakarta, mengatakan bahwa dari hasil pengamatan terhadap kendaraan modern yang rutin melakukan servis setiap enam bulan, penggunaan bahan bakar campuran cenderung membuat ruang bakar lebih cepat kotor.
Menurut Hardi, Pertamax umumnya menghasilkan residu yang lebih sedikit dibanding Pertalite.
Baca Juga: Pertamax Naik ke Angka Rp 12 Ribuan, Cek Harga BBM Pertamina per 1 Maret 2026
Ketika dicampur, sisa pembakaran dapat menjadi lebih lengket dan sulit dibersihkan, meski tidak sebanyak jika menggunakan Pertalite murni.
Ia menyarankan pemilik kendaraan untuk selalu mengikuti rekomendasi pabrikan, terutama terkait minimal nilai RON yang dibutuhkan mesin.
Banyak mobil modern memiliki rasio kompresi tinggi demi meningkatkan efisiensi dan tenaga.
Mesin dengan kompresi tinggi membutuhkan bahan bakar beroktan lebih tinggi agar campuran udara dan bensin tidak terbakar sebelum waktunya.
Jika menggunakan bensin beroktan lebih rendah dari yang dianjurkan, risiko yang muncul antara lain gejala ngelitik (knocking), tenaga tidak maksimal, serta kebutuhan perawatan ruang bakar yang lebih sering.
Dengan demikian, mencampur Pertamax dan Pertalite bukanlah langkah yang tepat.
Sifat dan kandungan masing-masing bahan bakar bisa saling memengaruhi dan mengurangi performa yang seharusnya didapatkan sesuai spesifikasi mesin kendaraan.
| Editor | : | Panji Nugraha |
KOMENTAR