Baca berita tanpa iklan. Gabung Gridoto.com+

Bukan Orang Sembarangan, Mengenal Ir Sedyatmo Yang Namanya Dipakai Jalan Tol

Irsyaad W - Selasa, 27 Januari 2026 | 14:00 WIB
Jalan Tol Ir Sedyatmo atau Tol Bandara Soekarno-Hatta
Dok. Jasa Marga
Jalan Tol Ir Sedyatmo atau Tol Bandara Soekarno-Hatta

Temuan ini menjadi terobosan besar dalam dunia teknik sipil, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di tingkat global.

Teknik pondasi cakar ayam memungkinkan pembangunan dilakukan di atas tanah lembek, sekaligus menekan biaya konstruksi dan mempercepat waktu pengerjaan.

Awalnya, sistem ini diterapkan pada pembangunan apron Pangkalan Udara TNI AL Juanda di Surabaya.

Selanjutnya, teknologi tersebut digunakan pada landasan Bandara Polonia di Medan serta taxiway dan apron Bandara Soekarno-Hatta.

Baca Juga: Sering Diucap, Ternyata Ini Asal Usul Kata JALAN TOL Yang Dipakai Indonesia Sejak 1970-an

Prof Dr Ir Sedyatmo penemu pondasi cakar ayam yang kini sudah diakui dunia
Dok. PUPR
Prof Dr Ir Sedyatmo penemu pondasi cakar ayam yang kini sudah diakui dunia

Seiring waktu, sistem pondasi cakar ayam semakin dikenal dan diadopsi secara luas.

Inovasi Sedyatmo bahkan memperoleh paten di berbagai negara, antara lain Amerika Serikat, Perancis, Italia, Inggris, Belgia, Belanda, Jerman Barat, Jerman Timur, Denmark, dan Brasil.

Pondasi cakar ayam tidak hanya digunakan untuk bangunan gedung, tetapi juga jalan raya dan lapangan terbang.

Menurut Sedyatmo, biaya penggunaan sistem ini tidak lebih mahal dibandingkan pembangunan jalan raya berskala besar, seperti Jakarta Bypass.

Keunggulan lainnya, pondasi cakar ayam dapat diterapkan di tanah yang baik maupun tanah lembek, serta memiliki ketahanan tinggi terhadap genangan air dan banjir.

Contohnya, sistem ini digunakan pada pondasi tiang listrik bertegangan tinggi di kawasan Tanjung Priok yang dibangun di atas bekas tambak ikan, sehingga seluruh struktur berada di bawah permukaan air.

Pondasi jalan dengan sistem cakar ayam juga terbukti mampu menahan beban kendaraan berat, termasuk truk dan trailer bermuatan besar.

Atas kontribusinya yang besar dalam pembangunan infrastruktur nasional, Pemerintah Republik Indonesia menganugerahkan gelar kehormatan Mahaputra Kelas I kepada Sedyatmo pada 1984.

Ia wafat pada 15 Juli 1984 dalam usia 74 tahun akibat penyakit tumor leher.

Sedyatmo juga dikenal dengan julukan 'Si Kancil' karena kecerdikannya dalam menemukan solusi teknis, khususnya pada sistem pondasi.

Editor : Panji Nugraha

Sobat bisa berlangganan Tabloid OTOMOTIF lewat www.gridstore.id.

Atau versi elektronik (e-Magz) yang dapat diakses secara online di : ebooks.gramedia.com, myedisi.com atau majalah.id



KOMENTAR

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

YANG LAINNYA

loading
SELANJUTNYA INDEX BERITA
Close Ads X
yt-1 in left right search line play fb gp tw wa