Ketiadaan standar tersebut dinilai justru memperkuat ketakutan publik dan meningkatkan risiko penanganan insiden yang tidak tepat di lapangan.
Dalam upaya meluruskan misinformasi sekaligus meningkatkan kesadaran keselamatan, Komunitas Mobil Elektrik Indonesia (KOLEKSI) menggelar kegiatan bertema “Zero Emission and Zero Accident” pada 24 Januari 2026 di Museum Listrik Energi Baru, Taman Mini Indonesia Indah (TMII).
Kegiatan ini menjadi ruang bagi pengguna kendaraan listrik untuk berbagi pengalaman nyata sekaligus edukasi keselamatan.
Ketua Umum KOLEKSI, Arwani, menegaskan pentingnya mitigasi risiko kebakaran kendaraan listrik seiring dengan meningkatnya jumlah pengguna.
“Mitigasi kebakaran mobil listrik sangat penting untuk meningkatkan keselamatan pengemudi dan penumpang,” kata Arwani di Jakarta Timur, Sabtu (24/1/2026).
Ia menjelaskan bahwa KOLEKSI mengundang berbagai pakar untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman terkait pencegahan dan penanganan kebakaran kendaraan listrik, serta melibatkan pemangku kepentingan terkait.
“Kami juga mengundang stakeholder terkait, seperti Jasa Marga, di mana saat ini mulai banyak lalu lintas mobil listrik di jalan tol, dan kami menyadari potensi insiden mobil listrik di jalan tol yang perlu penanganan khusus,” tambahnya.
Sementara itu, PT PLN (Persero) menyatakan telah mengambil langkah-langkah untuk meningkatkan aspek keselamatan dalam penggunaan kendaraan listrik.
Menyikapi sejumlah insiden kebakaran kendaraan listrik yang terjadi belakangan ini, VP Komersialisasi Produk Niaga Divisi Pengembangan Produk Niaga (PPN) PLN, Ronny Afrianto, menegaskan komitmen perusahaan dalam aspek keamanan.
“PLN menekankan pentingnya keselamatan dan keamanan dalam penggunaan mobil listrik dan kerja sama dengan pihak terkait, seperti pemadam kebakaran, kepolisian, dan produsen mobil listrik, untuk menangani kebakaran mobil listrik,” ujar Ronny.
Ia menambahkan bahwa PLN telah menerbitkan prosedur darurat untuk menghadapi kebakaran kendaraan listrik, termasuk pemutusan aliran listrik dan proses evakuasi.
“Yang perlu terus dilakukan adalah edukasi kepada masyarakat tentang keselamatan penggunaan mobil listrik dan cara menghadapi kebakaran, termasuk pengembangan infrastruktur yang aman dan andal,” katanya.
Para pemangku kepentingan menilai, percepatan adopsi kendaraan listrik tidak hanya bergantung pada kesiapan teknologi, tetapi juga pada kehadiran regulasi keselamatan yang jelas dan komunikasi publik berbasis data serta pengalaman pengguna.
Tanpa itu, transisi energi dinilai akan sulit mendapatkan kepercayaan luas dari masyarakat.
| Editor | : | Dida Argadea |
KOMENTAR