GridOto.com - Bukan mesin, Tim Aprilia kini mengalihkan fokus pengembangan motornya ke sektor elektronik dan aerodinamika.
Hal ini dikarenakan tahun ini jadi era terakhir MotoGP dengan mesin 1.000 cc.
Hal tersebut disampaikan Direktur Teknis Aprilia Racing, Fabiano Sterlacchini, saat peluncuran tim pada Kamis lalu.
Ia menjelaskan bahwa pengembangan elektronik difokuskan untuk meningkatkan kepercayaan diri pembalap sekaligus mencari peningkatan performa sekecil apa pun, terutama saat akselerasi.
“Dari sisi elektronik, sepanjang musim lalu kami banyak bekerja berdasarkan masukan para pembalap untuk membuat motor lebih mudah dikendalikan dan stabil,” ujar Sterlacchini melansir Crash.net.
Menurutnya, motor dengan potensi performa tinggi sekalipun tidak akan maksimal jika sulit dikendarai hingga batasnya.
Dalam kondisi tersebut, pembalap cenderung menyisakan margin aman sehingga berdampak pada catatan waktu yang lebih lambat.
“Karena itu kami banyak mengembangkan elektronik, khususnya pada sistem kontrol traksi, baik saat keluar tikungan maupun ketika masuk tikungan,” lanjutnya.
Baca Juga: Aprilia Makin Mengancam, Motor RS-GP 2025 Disebut Lebih Baik dari Ducati
Ia menambahkan, pemanfaatan traksi ban belakang secara optimal juga membantu proses pengereman.
Dengan begitu, pembalap bisa mengerem lebih lambat, lebih efektif saat menyalip, sekaligus mencatatkan waktu putaran yang lebih baik.
Selain itu, Aprilia juga menggarap detail-detail kecil pada elektronik, seperti membuat kontrol wheelie lebih halus hingga mengejar peningkatan akselerasi sekecil 0,0001 g.
“Semua aspek harus benar-benar presisi,” tegasnya.
Di sisi aerodinamika, Sterlacchini menjelaskan bahwa pengembangannya selalu menjadi kompromi antara downforce dan drag.
Meningkatkan downforce di bagian depan, misalnya, biasanya akan berdampak pada bertambahnya hambatan angin.
Namun, hubungan antara keduanya tidak selalu linier. Bahkan, drag dalam kondisi tertentu justru bermanfaat, terutama saat pengereman.
“Apa yang kami inginkan dari aerodinamika adalah mendapatkan perilaku optimal di setiap fase berkendara,” jelas Sterlacchini.
Baca Juga: Bos Aprilia Optimis, Marco Bezzecchi Akan Menyerang di MotoGP 2026
Aprilia berupaya menghasilkan gaya aerodinamika yang lebih efisien, memberikan keuntungan performa tanpa harus membayar mahal dengan efek samping yang merugikan.
Drag, misalnya, dibutuhkan saat memperlambat motor, tetapi tidak diinginkan saat melaju di lintasan lurus demi menjaga kecepatan puncak.
“Ini adalah pekerjaan berkelanjutan yang dilakukan semua pabrikan. Siapa yang lebih cerdas dan cepat dalam pengembangan, dia yang akan meraih hasil lebih baik,” tutupnya.
Sterlacchini sendiri langsung memberi dampak signifikan pada musim debutnya bersama Aprilia.
RS-GP 2025 sukses meraih empat kemenangan grand prix dan tiga kemenangan sprint race, membawa Aprilia finis di posisi kedua klasemen konstruktor MotoGP, sekaligus menempati peringkat ketiga klasemen pembalap lewat Marco Bezzecchi.
| Editor | : | Naufal Nur Aziz Effendi |
KOMENTAR