Baca berita tanpa iklan. Gabung Gridoto.com+

Penjualan Mobil Baru Terus Anjlok, Ini Penjelasan Ilmiah Peneliti UI

Naufal Shafly - Rabu, 14 Januari 2026 | 15:00 WIB
Ilustrasi penjualan mobil baru
Iday / GridOto
Ilustrasi penjualan mobil baru

GridOto.com - Pasar otomotif nasional khususnya segmen mobil baru, terus menunjukkan tren penyusutan dalam beberapa tahun terakhir.

Penurunan ini terjadi secara konsisten, baik dari sisi penjualan ritel (diler ke konsumen), maupun wholesales (distribusi dari pabrik ke jaringan diler).

Sepanjang 2025 contohnya, berdasarkan data Gabungan Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO) penjualan mobil baru secara ritel tercatat turun sekitar 6,3 persen dibandingkan capaian 2024.

Penurunan yang lebih dalam justru terjadi pada sisi wholesales, yang merosot hingga 7,2 persen.

Kondisi tersebut memperpanjang tren negatif yang sudah lebih dulu terjadi pada 2024.

Saat itu, penjualan mobil secara wholesales anjlok sekitar 13,9 persen dibandingkan 2023, sementara penjualan ritel turun 10,9 persen.

Menurunnya pasar mobil baru ini memunculkan pertanyaan besar, apa faktor utama yang membuat industri otomotif nasional belum mampu bangkit?

Peneliti Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Universitas Indonesia (LPEM UI), Riyanto, menjelaskan bahwa penyebab utamanya berkaitan langsung dengan daya beli masyarakat yang melemah.

“Intinya sebenarnya satu, daya beli. Harga mobil memang lebih tinggi daripada pendapatan masyarakat secara umum,” ujar Riyanto di Bandung, Jumat (9/1/2026).

Baca Juga: Penjualan Mitsubishi Destinator Selama 2025, Ini Tipe Terlaris

Riyanto, Peneliti LPEM UI
lpem.org
Riyanto, Peneliti LPEM UI

Berdasarkan hasil penelitian timnya, kondisi tersebut tidak terlepas dari pertumbuhan ekonomi Indonesia yang cenderung stagnan di kisaran 5 persen dalam beberapa tahun terakhir.

Laju pertumbuhan tersebut dinilai tidak cukup kuat untuk mendorong kenaikan pendapatan masyarakat secara signifikan, terutama jika dibandingkan dengan satu dekade sebelumnya.

“Pendapatan per kapita sudah pasti gede atau mungkin naiknya tidak sebesar di periode dasawarsa sebelumnya,” jelasnya.

Riyanto juga menyoroti penyusutan kelompok menengah sebagai faktor krusial.

Ia menyebut, jumlah masyarakat kelas menengah yang sebelumnya berada di kisaran 5–7 jutaan pada 2019, turun menjadi sekitar 9–10 juta orang pada 2024, sehingga tersisa sekitar 47 juta jiwa.

Kelompok ini sejatinya merupakan tulang punggung pasar mobil baru, karena memiliki kecenderungan mengganti kendaraan setiap tiga hingga lima tahun.

Namun, dengan tekanan ekonomi yang terjadi, pola tersebut ikut berubah.

“Jadi kelompok ini sebenarnya biasanya ganti mobil cepet ya 3 tahun, 5 tahun ganti namun sekarang lebih lama,” kata Riyanto.

Selain itu, ada pula calon konsumen pembeli pertama yang sebenarnya memiliki kemampuan membeli mobil, tetapi menunda keputusan pembelian.

Baca Juga: Penjualan Mobil 2025 Tembus Segini, Merek Ini Masih Jadi Jawara

Sebagian dari mereka bahkan memilih beralih ke pasar mobil bekas.

“Ada beberapa kelompok yang sebenarnya untuk first buyer itu bisa membeli tapi tertunda, tidak bisa membeli sekarang atau dia bergeser membeli mobil bekas,” lanjutnya.

Ia menambahkan, jika dibandingkan dengan kondisi pasar pada 2013, penurunan pasar mobil baru saat ini sekitar 30 persen.

Di sisi lain, pasar kendaraan bekas justru menunjukkan pertumbuhan hingga 2024.

“Kelompok-kelompok yang tidak menikmati kue ekonomi terutama di 5 tahun terakhir 2019 sampai 2024. Ini kan kelompok-kelompok menengah yang sebenarnya di pertumbuhan ekonomi 5 persen tidak banyak memperoleh kue ekonomi selama 5 tahun itu,” pungkas Riyanto.

Kondisi inilah yang kemudian membuat pasar otomotif nasional, khususnya mobil baru, terus mengalami tekanan dan belum menunjukkan tanda-tanda pemulihan signifikan.

Di 2026, pasar mobil baru diprediksi akan tetap stagnan.

"Kecuali pemerintah memberikan stimulus untuk merangsang pasar," tutupnya.

Editor : Dida Argadea

Sobat bisa berlangganan Tabloid OTOMOTIF lewat www.gridstore.id.

Atau versi elektronik (e-Magz) yang dapat diakses secara online di : ebooks.gramedia.com, myedisi.com atau majalah.id



KOMENTAR

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

YANG LAINNYA

loading
SELANJUTNYA INDEX BERITA
Close Ads X
yt-1 in left right search line play fb gp tw wa