Berdasarkan hasil penelitian timnya, kondisi tersebut tidak terlepas dari pertumbuhan ekonomi Indonesia yang cenderung stagnan di kisaran 5 persen dalam beberapa tahun terakhir.
Laju pertumbuhan tersebut dinilai tidak cukup kuat untuk mendorong kenaikan pendapatan masyarakat secara signifikan, terutama jika dibandingkan dengan satu dekade sebelumnya.
“Pendapatan per kapita sudah pasti gede atau mungkin naiknya tidak sebesar di periode dasawarsa sebelumnya,” jelasnya.
Riyanto juga menyoroti penyusutan kelompok menengah sebagai faktor krusial.
Ia menyebut, jumlah masyarakat kelas menengah yang sebelumnya berada di kisaran 5–7 jutaan pada 2019, turun menjadi sekitar 9–10 juta orang pada 2024, sehingga tersisa sekitar 47 juta jiwa.
Kelompok ini sejatinya merupakan tulang punggung pasar mobil baru, karena memiliki kecenderungan mengganti kendaraan setiap tiga hingga lima tahun.
Namun, dengan tekanan ekonomi yang terjadi, pola tersebut ikut berubah.
“Jadi kelompok ini sebenarnya biasanya ganti mobil cepet ya 3 tahun, 5 tahun ganti namun sekarang lebih lama,” kata Riyanto.
Selain itu, ada pula calon konsumen pembeli pertama yang sebenarnya memiliki kemampuan membeli mobil, tetapi menunda keputusan pembelian.
Baca Juga: Penjualan Mobil 2025 Tembus Segini, Merek Ini Masih Jadi Jawara
Sebagian dari mereka bahkan memilih beralih ke pasar mobil bekas.
“Ada beberapa kelompok yang sebenarnya untuk first buyer itu bisa membeli tapi tertunda, tidak bisa membeli sekarang atau dia bergeser membeli mobil bekas,” lanjutnya.
Ia menambahkan, jika dibandingkan dengan kondisi pasar pada 2013, penurunan pasar mobil baru saat ini sekitar 30 persen.
Di sisi lain, pasar kendaraan bekas justru menunjukkan pertumbuhan hingga 2024.
“Kelompok-kelompok yang tidak menikmati kue ekonomi terutama di 5 tahun terakhir 2019 sampai 2024. Ini kan kelompok-kelompok menengah yang sebenarnya di pertumbuhan ekonomi 5 persen tidak banyak memperoleh kue ekonomi selama 5 tahun itu,” pungkas Riyanto.
Kondisi inilah yang kemudian membuat pasar otomotif nasional, khususnya mobil baru, terus mengalami tekanan dan belum menunjukkan tanda-tanda pemulihan signifikan.
Di 2026, pasar mobil baru diprediksi akan tetap stagnan.
"Kecuali pemerintah memberikan stimulus untuk merangsang pasar," tutupnya.
| Editor | : | Dida Argadea |
KOMENTAR