Kombinasi antara efisiensi dan performa tersebut coba ditawarkan Jaecoo melalui teknologi Super Hybrid System (SHS).
Ryan menyebut, berbeda dengan teknologi hybrid konvensional yang umumnya menuntut konsumen memilih antara konsumsi energi atau tenaga, SHS dirancang untuk menghadirkan keduanya secara seimbang.
“Melalui teknologi SHS, konsumen tetap dapat menghemat konsumsi energi tanpa mengorbankan performa. Konsumen tidak perlu mengorbankan salah satu aspek,” jelasnya.
Sebagai gambaran, Jaecoo J7 SHS diklaim mampu digunakan untuk kebutuhan berkendara harian dengan jarak sekitar 100 kilometer menggunakan mode EV sepenuhnya.
Dengan begitu, biaya operasional dapat ditekan dibandingkan kendaraan berbahan bakar konvensional.
“Selain efisiensi, SHS juga menghadirkan karakter berkendara layaknya kendaraan listrik, dengan torsi instan dan akselerasi responsif,” tambah Ryan.
Dari sisi pasar, lonjakan penjualan PHEV sepanjang 2025 mulai terlihat sejak pertengahan tahun.
Setelah mencatat 413 unit pada Mei, penjualan melonjak pada Juni hingga mencapai 1.237 unit.
Meski sempat terkoreksi pada Juli dengan 347 unit, tren kembali menguat pada Agustus sebesar 686 unit dan relatif stabil hingga November.
Secara merek, Chery masih menjadi pemimpin pasar PHEV nasional dengan penjualan kumulatif 3.192 unit, disusul Jaecoo di posisi berikutnya dengan total 762 unit.
Agresivitas pabrikan asal China dalam meluncurkan model-model PHEV baru turut mendorong pertumbuhan pasar.
Chery menghadirkan Tiggo 8 CSH dan Tiggo 9 CSH, sementara Jaecoo membawa J7 SHS dan J8 SHS.
Beberapa merek lain seperti Geely dan Wuling juga mulai meramaikan segmen ini melalui Starray EM-i dan Darion PHEV.
Untuk pasar Indonesia, Jaecoo J7 SHS dibanderol Rp 499,9 juta, sementara Jaecoo J8 SHS dipasarkan dengan harga Rp 818 juta on the road Jakarta.
| Editor | : | Naufal Nur Aziz Effendi |
KOMENTAR