GridOto.com - Satu lagi nih motor bebek 2-tak legendaris di Indonesia tahun 90an.
Dulu kalau ingat iklannya selalu ada foto jet tempur F/A-18 Hornet lagi mau take-off.
Namanya Yamaha Force 1 yang meluncur di Tanah Air pada tahun 26 September 1992.
Ia adalah penerus dari Yamaha Alfa IIR yang sudah beredar sejak 1988.
Untuk penelitian dan pengembangan Force 1 seluruhnya dilakukan Yamaha di Indonesia.
Baca Juga: Ini Efeknya Pakai Oli Mesin Untuk Motor Yamaha di Motor Honda
Pasalnya, mereka melihat pasar sepeda motor di Indonesia terus meningkat.
Waktu itu Force 1 dibuat untuk membidik segmen anak-anak muda di kota besar di Indonesia.
Makanya dibandingkan dengan Alfa IIR desain Force 1 ini lebih segar dan sporty.
Dibanding Alfa IIR yang jadi pendahulunya itu, desain, rangka, dan mesin Force 1 ini berbeda total.
Pembaruan desain dilakukan pada bodi, jok, lampu depan dan belakang, kaca spion, ban, sokbreker, setelan rantai, tatakan kaki, dan tuas pemindah gigi.
Baca Juga: Aftersales Yamaha Tumbuh, Sparepart Fast Moving Masih Jadi Tulang Punggung
Sedangkan mesin, kapasitasnya lebih besar, yaitu 110 cc.
Kapasitas mesinnyanya lebih besar 7,9 cc dibanding Yamaha Champ yang volumenya 102,1 cc.
Tenaga yang dihasilkan Force 1 mencapai 10,5 dk pada 7.000 rpm. Lebih besar 2,1 dk dibanding Champ yang menelurkan 8,4 dk saja.
Untuk mesin, teknologi baru yang diaplikasi adalah YPCS (Yamaha Power Cooling System).
Sistem ini diterapkan lantaran kapasitas mesinnya yang makin besar. Untuk itulah, di samping blok diberi kipas pendingin.
Baca Juga: MAXI dan Classy Series Jadi Andalan Yamaha Arungi Pasar Motor Indonesia
Sebenarnya, teknologi ini bukanlah hal baru pada sepeda motor bebek.
Suzuki sudah menerapkan sejak 1984, tapi Yamaha erancang pendingin dengan bentuk yang lebih manis saja.
Harga yang ditawarkan Yamaha untuk motor bebek baru ini pada saat peluncuran adalah Rp3.250.000 (on the road Jakarta).
Bandingkan dengan Suzuki Crystal Tune yang dibanderol Rp3.110.000.
Kalau sekarang harganya berapa ya?
View this post on Instagram
| Editor | : | Dwi Wahyu R. |
KOMENTAR