Harga BBM di Indonesia Harus Turun, Tapi Jangan Semurah Kacang Goreng!

Naufal Shafly - Jumat, 22 Mei 2020 | 20:41 WIB
Ilustrasi SPBU Pertamina
Kompas.com/Garry Andrew Lotulung
Ilustrasi SPBU Pertamina

GridOto.com - Pemerintah terus mendapat desakan untuk menurunkan harga BBM, mengikuti harga minyak dunia yang anjlok.

Menurut Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), konsumen berhak membeli suatu barang berdasarkan tarif yang telah terstrukturisasi dengan matang.

Secara perhitungan kasar, menurut Tulus Abadi, Ketua Umum YLKI, harga BBM saat ini harusnya berada di level Rp 5.500 sampai Rp 6.000/liter untuk jenis Pertamax.

"Kalau saat ini BBM harganya harus turun itu kisarannya kan Rp 5.500 sampai Rp 6.000, kalau premium bisa lebih rendah lagi. Saya sebagai orang konsumen di satu sisi mendorong, karena itu hak konsumen untuk membeli suatu barang berdasarkan tarif yang dibayar dengan struktur biaya yang ada," ucap Tulus dalam diskusi virtual, Jumat (22/5).

Baca Juga: Pertamina Bagi-bagi BBM Gratis Buat Sopir Truk di Tol Trans Jawa

Tetapi, Tulus mengatakan, sebagai suatu lembaga konsumen, YLKI bukan hanya berfokus pada harga dan kualitas barang.

Ada pertimbangan lain yang harus diperhatikan, misalnya saja faktor konsumsi berkelanjutan.

"Untuk BBM yang notabene merupakan energi fosil, saya kira menjadi sangat absurd kalau kemudian dijual semurah kacang goreng, atau semurah sebotol air mineral," jelas Tulus.

Menurutnya, jika harga BBM terlalu murah, justru akan memberikan dampak negatif bagi suatu negara.

Baca Juga: Pertamina Pastikan Stok BBM Aman di Jalur Tol Trans Jawa

Pertama, hal tersebut dapat merusak pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT).

"Indonesia ini negara yang melimpah soal EBT, karena geothermal EBT di dunia, 40 persen pasokannya ada di kita. Selama ini EBT tidak pernah berkembang dengan baik, bahkan tidak serius dikembangkan, karena kita tersandera energi fosil, salah satunya minyak. Ini kalau dijual murah terus menerus akan mengancam EBT," jelasnya.

Lalu, dengan harga BBM yang sangat murah, dikhawatirkan dapat mengancam operasional angkutan transportasi massal.

"Nanti kalau BBM dimurahkan, orang-orang beramai-ramai akan meninggalkan KRL, MRT, LRT. Jadi untuk apa berdesak-desakan? lebih baik pikir naik sepeda motor atau mobil pribadi karena BBM murah dan terhindar dari COVID-19," ucapnya.

Baca Juga: Harga BBM Tak Kunjung Turun, Pengamat Minyak dan Gas Minta Pemerintah Lebih Transparan

Tulus menambahkan, dalam mengelola harga BBM, pemerintah harus memikirkan kesinambungan dengan sarana transportasi, sehingga kebijakan yang dihasilkan akan saling terhubung.

"Di banyak negara justru harga BBM itu harus pararel dengan kebijakan transportasi. Saya kira itu yang harus dipikirkan pemerintah," tutupnya.

Sobat bisa berlangganan Tabloid OTOMOTIF lewat www.gridstore.id.

Atau versi elektronik (e-Magz) yang dapat diakses secara online di : ebooks.gramedia.com, myedisi.com atau majalah.id

Editor : Eka Budhiansyah

KOMENTAR

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

YANG LAINNYA

loading
SELANJUTNYA INDEX BERITA
Close Ads X
yt-1 in left right search line play fb gp tw wa