Menurutnya, kenaikan ini kemungkinan besar tidak akan memengaruhi keputusan konsumen dalam membeli mobil.
"Dalam jangka panjang, kebijakan pajak otomotif akan makin berbasis pasar, mengarahkan sumber daya industri secara khusus ke teknologi listrik murni," kata Cui.
Sebagai catatan, mobil penumpang berbasis baterai murni (BEV) dan berbahan bakar hidrogen tidak terdampak oleh kebijakan ini, karena aturan pajaknya dihitung berdasarkan kapasitas mesin (cc).
Langkah ini mempertegas komitmen Beijing untuk menyapih industri NEV dari subsidi pemerintah secara perlahan.
Sejak Januari 2026, kendaraan energi baru sudah mulai dikenakan pajak pembelian setengah harga setelah masa pembebasan pajaknya berakhir, meski subsidi tukar-tambah (trade-in) hingga 20.000 yuan (sekitar Rp 47 juta) masih tersedia.
Asosiasi Produsen Otomotif China menyebut bahwa perubahan kebijakan ini, ditambah dengan sikap konsumen yang lebih hemat, menjadi salah satu pemicu turunnya angka penjualan NEV sebesar 23,8 persen secara tahunan (year-on-year) pada kuartal pertama.
Baca Juga: Mobil China Menggila di Malaysia, Penjualan Meroket Hanya dalam 4 Tahun
Di sisi lain, pengurangan insentif di dalam negeri ini terjadi justru saat merek mobil penumpang asal China makin taji di Eropa.
Menurut data terbaru dari Asosiasi Produsen Otomotif Eropa, pangsa pasar mobil China berhasil menyalip rival-rival mereka dari Jepang untuk pertama kalinya pada Mei lalu.
Sementara itu, menurut laporan dari media Handelsblatt, Komisi Eropa kabarnya sedang bersiap menerapkan bea masuk anti-subsidi untuk mobil plug-in hybrid asal China, sambil menunggu persetujuan dari negara-negara anggotanya.