Di sisi lain, Sekjen AMBI menilai tantangan terbesar dalam transaksi mobil listrik bekas saat ini adalah penilaian kondisi baterai.
"Hingga sekarang, penilaian mobil listrik bekas memang masih menjadi tantangan. Menurut saya, yang paling penting adalah melihat battery health," katanya.
Ia menjelaskan, kondisi kesehatan baterai menjadi faktor utama karena merupakan komponen dengan nilai paling tinggi pada mobil listrik.
"Karena komponen termahal dari mobil listrik adalah baterainya. Kalau kondisi baterainya sudah menurun, tentu akan sangat memengaruhi nilai kendaraan," jelasnya.
Oleh sebab itu, ia menyarankan agar setiap mobil listrik bekas menjalani pemeriksaan di bengkel atau dealer resmi untuk mengetahui kondisi battery health sebelum dilakukan transaksi.
"Mobil sebaiknya dicek terlebih dahulu di dealer resmi untuk mengetahui battery health-nya," ucapnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa perusahaan pembiayaan (leasing) masih berhati-hati dalam memberikan pembiayaan untuk mobil listrik bekas karena mempertimbangkan risiko penurunan nilai kendaraan.
Baca Juga: Apa Itu Battery Health? Ini Penjelasannya untuk Pengguna Mobil Listrik
"Saya sempat berdiskusi dengan beberapa perusahaan leasing mengenai penilaian mobil listrik. Saya meyakinkan mereka agar tetap mau membiayai mobil listrik karena saya melihat pasar ini masih memiliki potensi," tuturnya.
Menurutnya, minat konsumen, khususnya dari kalangan Gen Z, menjadi salah satu faktor yang membuat prospek mobil listrik bekas tetap menjanjikan.
"Pembeli dari kalangan Gen Z sekarang memang banyak yang menginginkan mobil listrik," pungkasnya.