Laporan Utama: Ketahanan Energi, Kedaulatan Negeri

Naufal Nur Aziz Effendi - Sabtu, 4 Juli 2026 | 18:00 WIB

Tangki truk pengangkut BBM dikerahkan untuk mensuplai kebutuhan energi masyarakat

Ada ratusan wilayah eksplorasi yang sudah ditemukan potensinya, sudah ada rencana pengembangannya di atas kertas, namun bertahun-tahun tidak dieksekusi.

Untuk yang satu ini, pemerintah memilih pendekatan lebih tegas.

Blok Abadi Masela, misalnya, yang mangkrak hampir tiga dekade, akhirnya bergerak setelah pemerintah memberi tenggat tegas kepada operator pengelola.

Hasilnya, proyek senilai USD21 miliar di Maluku kini telah memasuki tahap lelang konstruksi.

Sementara itu, di Kalimantan Timur, temuan baru di Blok Ganal diproyeksikan mulai berproduksi secara signifikan pada 2029.

BIODIESEL SEBAGAI PENOPANG KETAHANAN ENERGI

Di sektor BBM, capaian yang paling dirasakan masyarakat adalah penghentian impor solar pada 2026, yang menjadi tonggak baru karena untuk pertama kalinya hal ini tercapai dalam sejarah.

Keberhasilan ini ditopang kebijakan mandatori biodiesel yang diterapkan secara bertahap selama hampir satu decade.

Saat ini pencampuran solar dan minyak sawit mencapai 40% dan direncanakan meningkat menjadi 50% pada Juli 2026.

Baca Juga: Uji Jalan Biodiesel B50 Diklaim Tunjukkan Hasil Baik, Jadwal Ganti Filter Solar Lebih Panjang

Dengan skema ini, sebagian kebutuhan solar yang sebelumnya dipenuhi dari impor kini dapat digantikan produk berbasis sawit yang diproduksi di dalam negeri.

Pemerintah kini menyiapkan langkah serupa untuk bensin.

Brasil, negara yang telah lebih dulu menerapkan mandatori pencampuran etanol.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menilai bahwa bahan baku, seperti singkong, jagung, dan tebu, tersedia melimpah di Indonesia.

Pemerintah pun menargetkan kebijakan pencampuran etanol sebesar 20% pada bensin dapat mulai diterapkan pada 2028.

"Kalau kita mandatori 20%, berarti kita kurangi impor bensin 8 juta kiloliter," tegasnya.

Bahlil mengimbau masyarakat agar tidak khawatir terhadap ketersediaan Bahan Bakar Minyak (BBM) serta tidak membeli BBM secara berlebihan.

Ia menegaskan bahwa pasokan BBM nasional dalam kondisi aman, karena produksi dan distribusi terus berjalan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, sesuai standar stok operasional yang telah ditetapkan pemerintah.

Bahlil menjelaskan bahwa kapasitas tampung tangki timbun di dalam negeri memang terbatas.

Baca Juga: Menteri Bahlil Busung Dada, Bawa Laporan Baik Soal Stok BBM ke Presiden Prabowo

"Dengan keterbatasan daya tampung tangki timbun (BBM) kita yang ada, kapasitas tampung kita itu tidak lebih dari 25 hari. Sementara yang tersedia stok yang ada kapasitasnya hingga 23 hari. Tetapi bukan berarti 23 hari ini habis. Bukan itu maksudnya. Itu daya tampungnya," jelasnya

Ia menjelaskan bahwa angka stok BBM yang setara dengan 23 hari bukan berarti persediaan tersebut akan habis dalam waktu 23 hari.

Angka itu hanya menggambarkan kapasitas stok yang tersimpan di tangki penyimpanan pada suatu waktu.

Untuk memperjelas cara kerja pasokan, Bahlil memberi perumpamaan sederhana, stok BBM ibarat toren air yang akan terisi ulang secara otomatis saat volume berkurang.

"Jika stok BBM 3 hari keluar, maka produksi di kilang kita juga keluar untuk mengisi stok yang ada. Masuk lagi, isi lagi, kayak toren air di rumah kita. Iya, kayak gitu. Toren air di rumah, dipakai mandi, habis itu kan mesinnya langsung mompa lagi. Jadi jangan dipikir 21 hari itu minyak kita habis. Bukan itu maksudnya," jelasnya.

Menurut Bahlil, stok BBM bersifat dinamis karena setiap hari ada BBM yang didistribusikan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, sementara pada saat yang sama pasokan baru juga terus masuk, baik dari produksi kilang dalam negeri maupun dari impor.

Bahlil menambahkan bahwa pasokan BBM tidak hanya bergantung pada satu sumber.

Selain dipasok dari produksi kilang dalam negeri, ketersediaan BBM juga diperkuat melalui impor dari berbagai negara, tidak hanya bergantung pada pasokan dari kawasan Timur Tengah.

Pasokan tersebut juga diambil dari negara-negara tetangga, seperti Malaysia dan Singapura, sehingga situasinya aman dan tidak terkait langsung dengan kondisi di Selat Hormuz.

Sebagai langkah jangka panjang, pemerintah akan meningkatkan kapasitas penyimpanan.

Rencana itu mencakup pembangunan infrastruktur penyimpanan baru yang mampu menampung stok BBM setidaknya untuk tiga bulan, sesuai standar nasional.

Artikel ini telah tayang di Tabloid OTOMOTIF Edisi 01-XXXVI 14 Mei 2026

YANG LAINNYA