Solar B50 Dinilai Berisiko untuk Mesin Euro 4, Begini Penjelasannya

Wisnu Andebar - Jumat, 3 Juli 2026 | 19:20 WIB

Direktur Eksekutif KPBB, Ahmad Safrudin

Ia mencontohkan, saat harga Pertamina Dex sempat mencapai Rp 28 ribu per liter, banyak pemilik kendaraan diesel beralih menggunakan Biosolar karena harganya jauh lebih murah.

"Tempo hari kan kawan-kawan pengguna diesel menjerit karena harga Pertamina Dex Rp 28 ribu. Sekarang agak turun Rp 24 ribu, tapi masih terlalu tinggi," ujarnya.

Akibatnya, sebagian pengguna tetap memaksakan penggunaan Biosolar meski tidak sesuai spesifikasi mesin.

"Akhirnya lebih suka bermigrasi ke Biosolar. Enggak cocok dan dipaksakan, akhirnya EGR-nya ditutup, catalytic converter-nya di-bypass, kemudian juga ada bengkel yang membersihkan injektor. Tapi itu sekadar kendaraan bisa running saja," jelas Ahmad.

Ia menambahkan, meski injektor masih bisa dibersihkan, performa mesin tidak akan kembali seperti semula apabila terus menggunakan bahan bakar yang tidak sesuai spesifikasi.

"Sekalipun bisa dibersihkan injektornya, ternyata juga tidak bisa sesempurna kalau kita strict menggunakan BBM yang sesuai spesifikasi seperti Pertamina Dex atau BBM-nya punya Shell," katanya.

Puput pun berharap pemerintah dapat mengurangi disparitas harga antara Biosolar dan solar dengan standar emisi lebih tinggi agar pengguna kendaraan Euro 4 tidak terdorong menggunakan bahan bakar yang tidak sesuai.

Sebagai informasi, pemerintah resmi menerapkan mandatori biodiesel B50 secara nasional mulai 1 Juli 2026 melalui Keputusan Menteri ESDM Nomor 257.K/EK.01/MEM.E/2026.

B50 merupakan campuran 50 persen Fatty Acid Methyl Ester (FAME) berbasis minyak sawit dan 50 persen solar konvensional.

Program ini diharapkan mampu mengurangi ketergantungan impor BBM, memperkuat ketahanan energi nasional, serta meningkatkan pemanfaatan energi baru terbarukan.

YANG LAINNYA