Pantas Saja, Ini Alasan Investor Otomotif Mulai Tinggalkan Indonesia dan Hijrah ke Vietnam

Ferdian - Senin, 22 Juni 2026 | 19:45 WIB

Pabrik VinFast di Vietnam ini memiliki tingkat otomatisasi sangat tinggi dengan bantuan robot

GridOto.com - Kabar mengenai pemindahan sebagian produksi industri komponen otomotif dari Indonesia ke Vietnam sedang menjadi perbincangan.

Wacana tersebut muncul setelah adanya indikasi pergeseran strategi produksi di sejumlah pabrik komponen di Jawa Timur, seiring perubahan lanskap industri otomotif global dan faktor geopolitik.

Penasihat Khusus Presiden Bidang Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan Buruh, Said Iqbal, sebelumnya mengungkapkan ada dua perusahaan besar di Pasuruan dan Mojokerto yang berpotensi memindahkan sebagian aktivitas produksinya ke Vietnam.

Langkah tersebut dikhawatirkan berdampak pada ribuan tenaga kerja di tengah percepatan transisi menuju kendaraan listrik atau electric vehicle (EV).

Menanggapi isu tersebut, Sekretaris Jenderal Gabungan Industri Alat-alat Mobil dan Motor (GIAMM), Rachmat Basuki, mengatakan perpindahan investasi tidak bisa dilepaskan dari perkembangan rantai pasok global, kondisi pasar otomotif nasional, serta persaingan daya tarik investasi antarnegara.

Menurut Rachmat, berdasarkan informasi yang diterimanya, dua perusahaan yang dimaksud merupakan produsen wiring harness yang berada di bawah grup Yazaki dan memiliki fasilitas produksi di Jawa Timur.

Ia menilai salah satu faktor utama yang membuat Vietnam lebih menarik adalah kesiapan ekosistem kendaraan listrik yang sudah lebih dahulu berkembang.

Kehadiran VinFast yang telah memproduksi mobil listrik selama beberapa tahun membuat para pemasok memiliki pasar yang jelas.

Baca Juga: Lahan 60 Hektar di Subang Jadi Pabrik Mobil Nasional Prabowo, Setahun Produksi 50.000 Unit

"Di Vietnam kan ada VinFast yang sudah berproduksi tiga tahun lalu, sehingga supplier bisa masuk ke VinFast tersebut," ujar Rachmat menukil Kompas.com.

Di sisi lain, Indonesia memang memiliki pasar otomotif yang besar, tetapi produksi kendaraan listrik secara massal dinilai belum terbentuk.

Sebagian besar model yang dipasarkan masih mengandalkan sistem completely knocked down (CKD) atau perakitan, sehingga keterlibatan industri pemasok lokal belum maksimal.

"Sementara di Indonesia pasar memang besar, tetapi sampai sekarang belum ada produksi kendaraan listrik secara massal. Kalau pun ada masih CKD atau hanya assembly, dan itu pun belum menyerap supplier lokal," katanya.

Rachmat juga menyoroti kondisi industri komponen otomotif nasional yang saat ini menghadapi tekanan akibat melemahnya pasar kendaraan roda empat.

Akibatnya, banyak perusahaan pemasok beroperasi di bawah kapasitas ideal.

Menurut dia, sebagian pelaku industri masih dapat bertahan berkat permintaan dari sektor kendaraan roda dua yang relatif stabil, meski tidak semua perusahaan memiliki pelanggan di segmen tersebut.

"Untuk kondisi supplier saat ini memang under capacity karena terus menurunnya pasar domestik R4. Supplier masih bisa bertahan karena pasar R2 yang masih stabil, itu pun tidak semua supplier supply ke R2," ujarnya.

Baca Juga: Lokasi Pabrik Mobil Nasional Indonesia Sudah Ditentukan, Pindad Pilih di Kabupaten Ini

GIAMM menilai Indonesia masih memiliki banyak pabrik wiring harness.

Namun, sebagian besar perusahaan tersebut berada di bawah grup usaha besar seperti Yazaki.

Meski perpindahan produksi berpotensi memengaruhi rantai pasok, Rachmat menilai persoalan yang lebih penting adalah mengapa investor lebih memilih Vietnam.

"Mungkin dampak kelangsungan supply chain sedikit terganggu, namun yang lebih dicermati adalah kenapa investor merelokasikan industrinya ke Vietnam. Bisa jadi investasi otomotif di Indonesia tidak semenarik Vietnam," ujarnya.

Ia menambahkan, kecenderungan serupa juga terlihat di sejumlah sektor lain. Industri elektronik, teknologi informasi, hingga tekstil disebut mengalami kondisi yang sama, di mana sejumlah merek global lebih memilih menjadikan Vietnam sebagai basis produksi mereka.

YANG LAINNYA