Baca Juga: Membanggakan, Alumnus ITB Ini Jadi Insinyur Aerodinamika Mobil Balap Formula 1
"Perkembangan teknologi IoT dan smart mobility juga membuka peluang besar untuk menghadirkan sistem keselamatan yang lebih preventif, murah, dan mudah diimplementasikan," ujarnya.
Untuk mendeteksi kondisi pengendara, Sadar Helmet megintegrasikan sejumlah sensor, yakni Photoplethysmography (PPG) untuk membaca detak jantung dan Heart Rate Variability (HRV), serta Akselerometer dan giroskop untuk memantau pola gerakan kepala.
Data dari berbagai sensor tersebut kemudian diolah menggunakan teknologi machine learning dan sensor fusion guna mengklasifikasikan tingkat kantuk pengendara.
Keunggulan utama SADAR Helmet terletak pada kemampuannya mendeteksi kondisi pra microsleep secara real time sehingga berfugsi sebagai sistem pencegahan sebelum kecelakaan terjadi.
Pendekatan ini berbeda dengan sebagian besar perangkat keselamatan berkendara yang umumnya bekerja setelah kecelakaan terjadi.
Selain itu, sistem dirancang agar dapat dipasang pada helm standar SNI tanpa mengubah struktur utama helm.
Biaya implementasinya juga dinilai lebih terjangkau dibandingkan teknologi pendeteksi kantuk berbasis kamera maupun electroencephalography (EEG).
Dari sisi kajian keselamatan, tim menggunakan pendekatan Heinrich’s Accident Triangle, Domino Theory, Swiss Cheese Model, serta Hierarchy of Controls berdasarkan NIOSH dan ISO 45001.
Rizky mengatakan, proses pengembangan konsep memerlukan diskusi dan riset yang cukup panjang sebelum akhirnya menghasilkan ide SADAR Helmet.
"Prosesnya memakan banyak waktu karena kami benar-benar melakukan brainstorming berhari-hari untuk mendapatkan ide SADAR Helmet. Kebetulan kami juga sedang mengambil mata kuliah Pengembangan Produk dan Bisnis, sementara K3 menjadi salah satu objek kajian di Teknik Industri," papar Rizky.
Baca Juga: Terlupakan, Ini Sosok Penggagas Mobil Listrik Nasional Lulusan ITB Yang Justru Dipenjara
Ke depan, Tim iConic berharap inovasi tersebut dapat terus dikembangkan melalui integrasi aplikasi seluler, GPS tracking, cloud monitoring, dan analisis berbasis kecerdasan buatan (AI) untuk meningkatkan akurasi deteksi kantuk.
Mereka juga membuka peluang kerjasama dengan industri helm, sektor otomotif, maupun pemerintah agar teknologi tersebut dapat di produksi dan dimanfaatkan secara lebih luas.
"Kami belajar keberhasilan sebuah inovasi tidak hanya berasal dari ide yang bagus, tetapi juga dari proses riset yang kuat, kerja sama tim, komunikasi yang baik, dan kemampuan memahami permasalahan nyata di masyarakat," ujar Yasser.