GridOto.com - Pada momen arus balik lebaran 2026 ini mulai tampak aksi pemotor 'cengpat'.
Cengpat sendiri merupakan singkatan dari Bonceng Empat yang tergolong berbahaya.
Salah satunya dilakukan Syaiful Anam, pemudik asal Pasuruan yang membawa istri dan dua anaknya menggunakan satu motor Yamaha NMAX.
Anak sulungnya yang berusia 11 tahun duduk di bagian depan di atas tumpukan tas tanpa mengenakan helm.
Sementara anak bungsunya yang berusia 3 tahun dipangku sang istri di jok belakang.
"Kalau naik motor lebih hemat. Kalau kendaraan umum repot naik turunnya, kasihan istri sama anak," tutur Syaiful saat ditemui di Pelabuhan Ketapang, (25/3/26).
Syaiful mengakui menempuh jarak ratusan kilometer dengan motor bukanlah perkara mudah, apalagi dengan muatan berlebih.
Namun, momentum setahun sekali ini dianggap sebagai bagian dari kenangan keluarga kecilnya.
Ia mengaku bersyukur karena anak-anaknya tidak rewel selama perjalanan meski harus berbagi ruang sempit.
Kondisi serupa dilakukan Mayasari, pemudik asal Banyuwangi yang juga melakukan bonceng empat bersama suami dan dua anaknya yang masih balita.
Baca Juga: Petaka Bocah-bocah Bonceng Tiga di Atas Mio, Maut Cabut 2 Nyawa Gegara Ini
Meski terpapar terik matahari, Maya merasa perjalanan dengan motor jauh lebih praktis dan cepat dibandingkan moda transportasi lain.
"Kalau naik motor lebih cepat ya, kemarin yang macet di Cekik (Bali saat arus mudik) itu juga kita bisa cepat sampai karena motoran," tutur Maya.
Walaupun menyadari risiko keselamatan yang tinggi di jalan raya, Maya dan suaminya berupaya meminimalisasi bahaya dengan rutin beristirahat.
Mereka memilih untuk berhenti sejenak setiap kali merasa penat dan memastikan barang bawaan tidak melebihi kapasitas yang membahayakan keseimbangan motor.
Sebagai info, guna mengurai kepadatan di pelabuhan selama puncak arus balik, PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) memberlakukan skala prioritas bagi pengguna jasa.
Kendaraan roda dua dan angkutan penumpang umum menjadi kategori yang didahulukan untuk masuk ke dalam kapal.
Wakil Direktur Utama ASDP, Yossianis Marciano, mengatakan, langkah ini diambil untuk memastikan kelancaran arus lalu lintas bagi pemudik mandiri dan pengguna transportasi publik.
"Motor harus didahulukan. Lalu kendaraan umum seperti bus dan travel juga kami utamakan," ujar Yossianis.
Sementara itu, kendaraan besar atau truk logistik masuk ke dalam kategori non-prioritas.
Kendaraan jenis ini akan diarahkan menuju buffer zone yang telah disediakan sebagai bagian dari penerapan delaying system ketika kondisi penyeberangan di Selat Bali terpantau sangat padat.