Director Training Safety Defensive Consultant Indonesia, Sony Susmana, menilai, kasus rem blong yang melibatkan kendaraan besar kerap berulang dan menjadi pekerjaan rumah serius bagi pemilik armada maupun pengemudi.
“Rem blong yang berujung kecelakaan sudah sering terjadi di kendaraan-kendaraan besar. Ini PR besar dari pemilik serta para pengemudinya, karena korbannya pihak lain yang tidak tahu apa-apa. Sudah bosan juga dengar berita kecelakaan rem blong lagi dan lagi,” kata Sony melansir Kompas.com (4/3/2026).
Menurutnya, sopir truk tidak lagi cukup hanya mengandalkan keterampilan operasional semata.
Mereka harus menguasai langkah-langkah antisipatif untuk mencegah risiko di jalan.
"Misalnya berhenti setiap 2-3 jam berkendara, cek rem secara berkala, jaga kecepatan, tidak overload. Selain itu, di jalan menurun menggunakan gigi rendah," kata Sony.
Penggunaan gigi rendah akan membuat engine brake bekerja lebih optimal sehingga laju kendaraan tetap terkendali dan tidak terus bertambah akibat dorongan gravitasi.
Untuk kendaraan besar seperti bus dan truk, exhaust brake juga dapat digunakan sebagai sistem pengereman tambahan.
Baca Juga: Jalan Layang Tol Jogja-Bawen Tunjukkan Kemajuan, Girder Siap Dipasang 2 Minggu Lagi
Pada kesempatan terpisah, Investigator Senior Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Ahmad Wildan mengatakan, sebagian besar kecelakaan yang disebut akibat rem blong sebenarnya bukan disebabkan kerusakan sistem pengereman.
“Dari hampir keseluruhan kasus rem blong, masalahnya adalah pengemudi, tidak terkait dengan sistem rem kendaraan,” kata Wildan.
Menurutnya, banyak pengemudi belum memahami prosedur yang tepat saat melintasi jalan menurun. Padahal, teknik berkendara yang benar dapat mencegah terjadinya rem blong.
Saat melaju di turunan, pengemudi tidak boleh hanya mengandalkan pedal rem utama, tetapi juga harus memanfaatkan engine brake.
Penggunaan gigi rendah akan membuat engine brake bekerja lebih optimal sehingga laju kendaraan tetap terkendali dan tidak terus bertambah akibat dorongan gravitasi.
Untuk kendaraan besar seperti bus dan truk, exhaust brake juga dapat digunakan sebagai sistem pengereman tambahan guna meningkatkan keselamatan.
Wildan mengingatkan agar pengemudi tidak terus-menerus menginjak pedal rem di turunan panjang karena dapat memicu overheating pada komponen pengereman.
Baca Juga: Tanah Seukuran Penggaris Digusur Tol Jogja-Bawen, Pemilik Terima UGR Tak Sampai Rp 250 Ribu
“Jangan terus-terusan menginjak pedal, ini bisa menyebabkan komponen overheating, kampas bisa menyublim sehingga asap menghalangi pertemuan tromol dan kampas, minyak rem bisa mendidih mengakibatkan pedal ngempos,” ujarnya.
Dengan demikian, peristiwa rem blong di jalan menurun umumnya bukan semata-mata karena kerusakan sistem rem, bisa jadi akibat kesalahan teknik berkendara.
Pemahaman prosedur yang tepat menjadi kunci utama untuk mencegah kecelakaan serupa.