Seluruh status kamera dapat dipantau melalui dashboard, termasuk yang mati maupun yang telah kembali normal.
Dari ribuan kamera tersebut, tercatat sekitar 64 CCTV yang mengalami gangguan dan menunggu perbaikan.
Selain faktor teknis, Aditia mengungkapkan pencurian perangkat CCTV juga pernah terjadi, termasuk saat aksi demonstrasi ketika kamera dicabut dari tiang.
"Pelaku tetap bisa teridentifikasi karena wajah mereka sudah terekam," jelas dia.
Baca Juga: Mata-mata Kecepatan Mobil di Jalan Tol Makin Canggih, Pelaku Langsung Ditampilkan ke Layar Besar
Menurut Aditia, CCTV memiliki peran penting sebagai 'mata-mata' kota yang mampu merekam kejadian dan dapat diputar ulang ketika dibutuhkan.
Banyak kasus kriminal maupun kecelakaan dapat ditelusuri melalui rekaman tersebut.
Aparat kepolisian juga kerap meminta data ketika terjadi peristiwa tertentu.
Meski Diskominfotik bukan penegak hukum, dashboard pemantauan dapat diakses sejumlah instansi terkait untuk kebutuhan operasional.
"CCTV bukan pajangan. Fungsi utamanya rekam jejak kejadian untuk menjaga keamanan dan ketertiban," ujar Aditia.
Selain pemerintah provinsi, pengawasan juga dilakukan di tingkat wilayah.
Kepala Satpol PP Jakarta Pusat, Purnama Hasudungan Pangabean mengatakan, terdapat 20 titik CCTV yang dipantau di wilayahnya,
"Tanah Abang, Menteng, Johar Baru, Gambir, dan Sawah Besar," kata Purnama saat dihubungi.
Menurut dia, seluruh kamera dalam kondisi aktif dan dipantau anggota setiap hari dari pagi hingga sore.
Penelusuran melalui laman smartcity.jakarta.go.id menemukan sekitar 47 tautan CCTV yang tersebar di sejumlah wilayah, antara lain Bendungan Hilir, GBK, Asia Afrika, Tanjung Duren, Tomang, Menteng, hingga Pintu Air Manggarai.
Baca Juga: Waspada, Sekitar Flyover Cibinong Kini Diawasi Intel Canggih Polisi 24 Jam
Selain itu, aplikasi Molecool juga menampilkan siaran langsung sejumlah titik lalu lintas, di antaranya Gambir 013, Bendungan Hilir 001, dan Cempaka Putih Barat 003, sebagian berasal dari kamera berbasis CSR.
Di sisi lain, persepsi warga terhadap CCTV tidak sepenuhnya sejalan dengan klaim efektivitas.
Aurelia (29), karyawan swasta di Gambir, mengetahui keberadaan kamera di sejumlah persimpangan, tetapi tidak merasakan dampak signifikan.
"Tahu ada, tapi tidak terlalu terasa pengaruhnya dalam aktivitas sehari-hari," ujar Aurelia.
Ia menilai CCTV lebih berguna setelah kejadian, bukan sebagai pencegahan langsung.
Pandangan serupa disampaikan Kenand (30) di Gondangdia.
"Manfaatnya lebih ke bahan bukti setelah kejadian. Untuk mencegah langsung, mungkin tidak terlalu terasa," ujar dia.
Keduanya menekankan pentingnya perawatan kamera serta keterbukaan informasi agar rasa aman masyarakat meningkat.