GridOto.com – Industri otomotif Indonesia menghadapi tantangan yang cukup signifikan pada 2026, termasuk sektor kendaraan listrik (EV).
Perlambatan permintaan pasar, ketidakpastian kebijakan fiskal dan insentif, serta dorongan untuk memproduksi EV membuat situasi pasar otomotif semakin kompleks.
Seperti diketahui, pemerintah tengah mengevaluasi insentif pembelian kendaraan listrik yang disebabkan oleh pengetatan anggaran.
Hal ini dikhawatirkan menimbulkan potensi fiscal cliff pada periode 2025-2026. Dengan kenaikan harga jual, permintaan konsumen akan EV bisa saja menurun sehingga memengaruhi keberlanjutan pertumbuhan industri EV di Indonesia.
Dinamika tersebut menjadi topik utama VinTalks yang diselenggarakan VinFast Indonesia di momen Indonesia International Motor Show (IIMS) 2026, Sabtu (7/11/2026).
Baca Juga: Tak Cuma Soal Insentif, Ini Strategi VinFast Masuk Pasar Nasional
Forum diskusi tematik yang bertema “Navigating Uncertainty: The Future of Indonesia’s Automotive Industry Amid Policy Shifts and Electrification” tersebut menghadirkan narasumber pakar ekonomi nasional Josua Pardede dan CEO VinFast Indonesia Kariyanto Hardjosoemarto.
Pada forum itu, diskusi menyoroti ketidakpastian kelanjutan insentif kendaraan listrik yang mendorong sikap wait and see dari investor dan pelaku industri EV untuk mengembangkan serta memperluas portofolio produk di Indonesia.
Secara tidak langsung, sikap ini dapat memengaruhi kepercayaan konsumen dan menghambat target pemerintah dalam mencapai zero carbon emission melalui adopsi EV.
Josua Pardede mengatakan, 2026 akan menjadi tahun yang krusial, terutama jika kepastian insentif dan kebijakan fiskal belum sepenuhnya jelas.
Ia juga memaparkan bahwa tantangan kompleks juga hadir karena transisi dari kendaraan bermesin pembakaran internal ke EV menuntut investasi yang besar.
Tak hanya itu, rantai pasok dalam ekosistem otomotif pun perlu penyesuaian. Selain itu, infrastruktur pendukung untuk memastikan EV dapat digunakan secara jamak perlu lebih merata.
Baca Juga: VinFast Perkenalkan Limo Green, MPV Listrik Baru untuk Pasar Indonesia
Meski demikian, menurut Josua, pasar domestik Indonesia secara struktural memiliki potensi dan fondasi yang kuat karena elektrifikasi kendaraan menjadi roadmap pemerintah. Ditambah lagi, demografi Indonesia yang cukup besar.
“Tahun ini akan menjadi fase menantang. Kesinambungan kebijakan dan dukungan pemerintah, khususnya terkait insentif, menjadi kunci agar pelaku industri dan konsumen tetap percaya diri berinvestasi dan bertransisi ke kendaraan listrik,” ujar Josua.
Menanggapi dinamika fiskal dan regulasi, CEO VinFast Indonesia Kariyanto Hardjosoemarto menyampaikan komitmen pihaknya untuk berinvestasi dan memperbanyak portofolio produknya di Indonesia.
Kariyanto mengatakan, VinFast memiliki komitmen jangka panjang di Indonesia melalui pendekatan berbasis ekosistem, yang mencakup pembangunan infrastruktur pengisian, jaringan ritel, dan layanan purna jual untuk memperkuat kepercayaan konsumen terhadap kendaraan listrik.
“Visi kami adalah menjadikan Indonesia sebagai hub EV regional sekaligus memastikan konsumen memiliki akses dan kepercayaan penuh terhadap kendaraan listrik. Ini bagian dari strategi jangka panjang kami di tengah transisi industri otomotif,” ujar Kariyanto.
Baca Juga: Dua Tahun Eksis di Indonesia, VinFast Bakal Gas Pol di Tahun 2026
Mengawali 2026, VinFast meluncurkan Limo Green, MPV listrik tujuh penumpang, sebagai contoh nyata investasi strategis perusahaan di pasar Indonesia.
Model ini dirancang untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan aplikasi komersial seperti armada taksi dan ride-hailing.
“Langkah ini menunjukkan komitmen kami untuk terus berinvestasi dan bertumbuh secara berkelanjutan, selaras dengan agenda industrialisasi dan transisi energi nasional,” tambah Kariyanto.