GridOto.com - Pasar kendaraan listrik nasional mencatat pertumbuhan signifikan sepanjang 2025.
Total penjualan meningkat sekitar 70 persen menjadi 175 ribu unit.
Lonjakan terbesar terjadi pada segmen Battery Electric Vehicle (BEV) yang melonjak dari 43 ribu unit pada 2024 menjadi 104 ribu unit pada 2025 atau tumbuh 141 persen.
Pertumbuhan tersebut dinilai sebagai hasil keberhasilan kebijakan pemerintah dalam mendorong adopsi kendaraan listrik melalui berbagai insentif fiskal.
Insentif dinilai mampu menurunkan hambatan harga, meningkatkan daya tarik produk, serta membangun kepercayaan konsumen terhadap teknologi kendaraan listrik yang lebih efisien dan ramah lingkungan.
Namun, memasuki 2026, industri kendaraan listrik menghadapi tantangan baru seiring rencana pemerintah menghentikan sebagian insentif per 31 Desember 2025.
Insentif yang akan dihentikan meliputi PPN Ditanggung Pemerintah (DTP) sebesar 10 persen serta pembebasan bea masuk 0 persen untuk kendaraan listrik impor dalam bentuk Completely Built Up (CBU) dan Completely Knock Down (CKD).
Sementara itu, insentif lain seperti Pajak Kendaraan Bermotor (PKB), Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB), serta Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) 0 persen masih akan dilanjutkan.
Menanggapi perubahan kebijakan tersebut, Director of Sales and Networks VinFast Indonesia, Davy Jeffry Tulian, menilai diskusi mengenai insentif tetap penting, namun tidak menjadi satu-satunya fokus perusahaan.
Baca Juga: MPV Listrik Tujuh Penumpang, VinFast Limo Green Diklaim Bisa Tempuh Jarak 450 Km
“Diskusi mengenai insentif menurut saya itu lebih bermuara kepada strategi harga, karena Vinfast lebih bicara ekosistem jadi buat kami insentif itu penting. Tapi selain insentif ada aspek lain yang lebih penting,” kata Davy di Jakarta Pusat, Selasa (10/2/2026).
Menurut Davy, VinFast tidak hanya berfokus pada kendaraan roda empat, melainkan memiliki portofolio yang lebih luas di Indonesia.
“Jadi sebenarnya kita akan fokus kepada ekosistem untuk masuk ke Indonesia, secara horisontal kita akan fokus kepada prodak-prodak yang kita punya. Dengan rincian, brand VinFast itu akan dibangun dengan lebih konfrenhensif,” katanya.
Meski demikian, Davy menegaskan bahwa kebijakan insentif tetap menjadi faktor yang dinantikan oleh VinFast, terutama dalam mendukung strategi harga dan penetrasi produk di pasar domestik.
“Lagi-lagi diskusi insentif itu penting buat kami, tapi kita punya prodak-prodak yang harus kita masukan ke indonesia dan juga ekosistem. Kami dari Vinfast sangat menunggu insentif itu bisa keluar dan bisa diumumkan,” tutupnya.