Awalnya, uji coba ini ditargetkan menyasar 15 lokasi di Selangor dan 31 lokasi di Johor.
Namun, rencana tersebut dibatalkan setelah hasil evaluasi menunjukkan proyek ini tidak menguntungkan secara finansial.
Selain persoalan biaya, faktor alam menjadi tantangan berat bagi ketahanan cat fotoluminescent tersebut.
Para ahli sempat memperingatkan iklim lembap Malaysia yang khas negara tropis dapat memperpendek usia pakai cat secara drastis.
Berdasarkan studi dalam International Journal of Pavement Research and Technology, lapisan fotoluminescent berisiko mengalami degradasi cepat.
Kondisi ini sering kali hanya dalam waktu 18 bulan akibat kondisi lingkungan yang ekstrem.
Baca Juga: Jangan Cuma Tahu Garis Putus dan Lurus, 5 Marka Jalan Ini Juga Harus Paham Artinya
Padahal, saat uji sepanjang 245 meter diluncurkan di daerah pedesaan dekat Semenyih, antusiasme masyarakat sangat tinggi.
Para pengemudi memuji garis jalan yang tetap terlihat jelas meskipun dalam kondisi hujan lebat dan kabut.
Teknologi ini menggunakan cat strontium aluminat, serupa dengan yang diuji di Belanda dan Jepang yang mampu menyerap sinar matahari di siang hari dan memancarkan cahaya hingga sepuluh jam saat malam tanpa memerlukan listrik.
Gagasan ini awalnya dianggap tepat sasaran untuk menekan angka kematian akibat kecelakaan lalu lintas.
Tercatat, lebih dari 6.000 jiwa setiap tahunnya di Malaysia, di mana mayoritas terjadi di jalan raya pedesaan yang gelap.
Setelah melakukan evaluasi mendalam, pemerintah Malaysia menyimpulkan proyek ini tidak berkelanjutan.
Alih-alih mengejar teknologi visual yang mahal, pemerintah memutuskan untuk mengalihkan dana tersebut ke sektor yang lebih mendasar.
Pemerintah berpendapat, anggaran besar tersebut akan lebih bermanfaat jika digunakan untuk memperbaiki lubang-lubang di jalan.
Peningkatan kualitas fondasi jalan yang sudah ada demi keamanan pengguna jalan, juga dianggap tak kalah pentingnya.