Di kelas H.2, yang dihuni oleh beragam jenis kendaraan dan peserta tangguh, Julian berhasil mengamankan podium ketiga.
Hasil ini dianggap sebagai performa maksimal mengingat beratnya tantangan yang harus dihadapi.
“Apalagi treknya banyak didominasi dengan gurun batu dan gurun pasir, yang mana sangat menantang secara fisik terus kekuatan kendaraan, serta juga menjadi sebuah medan yang tidak biasa untuk dihadapi pereli Indonesia,"
"Karena dengan medan seperti itu menurut saya membutuhkan talenta dan pengalaman lebih sehingga kita setiap hari berusaha untuk berhati-hati,” tambahnya.
Kejutan tidak berhenti di situ.
Jeje juga sukses menyabet posisi puncak alias juara pertama di kategori Iconic Classic.
Kategori ini merupakan penghargaan khusus bagi para kontestan yang berlaga menggunakan mobil balap bersejarah yang pernah berkompetisi di ajang Paris Dakar di masa lalu.
Ketangguhan Toyota Land Cruiser 100
Dalam ajang ini, Jeje memacu Toyota Land Cruiser 100 yang dimodifikasi oleh tim Compagnie Sahariene asal Prancis.
Menariknya, SUV buatan Jepang tersebut merupakan kendaraan orisinal milik Tim Toyota Jepang yang sempat merajai balapan di awal era 2000-an.
Meski harus menghajar medan ekstrem berupa pasir dan bebatuan, performa Land Cruiser 100 miliknya sangat stabil dan minim kendala mekanis.
Hal ini menjadi kunci utama keberhasilan tim sepanjang perlombaan.
“Untuk LC100 Alhamdulillah tidak bermasalah dari awal sampai akhir, kita bisa setiap harinya mencapai finish dengan kondisi yang utuh dan tetap sehat,"
"Jadi kalau yang sifatnya kerusakan lebih kepada kaitannya baret pada bodi, pada bagian bumper. Sementara utk bagian lainnya dari awal sampai akhir semuanya aman,” jelasnya.
Menutup keterangannya, Julian menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam atas dukungan dari berbagai pihak.
Berkat bantuan tersebut, impian masa kecil yang semula hanya angan-angan, kini berhasil diwujudkan dengan raihan kemenangan yang membanggakan.