Ia menilai, kecenderungan konsumen untuk beralih ke kendaraan hybrid akan semakin kuat apabila harga mobil jenis ini mengalami penurunan.
“Kalau kita lihat memang ada kecenderungan dari seluruh jenis (powertrain) itu akan pindah ke hybrid apabila harga hybrid itu turun,” kata Syahda di Bandung.
Berdasarkan kajian LPEM FEB UI, penurunan harga mobil hybrid berpotensi memicu perpindahan konsumen dari mobil bermesin bensin atau internal combustion engine (ICE) dalam jumlah yang cukup signifikan.
Ia menyebut, porsi pasar mobil ICE dapat berpindah ke hybrid sekitar 8,1 hingga 13,6 persen.
Syahda mencontohkan, jika harga mobil hybrid turun sebesar 10 persen, maka perpindahan pengguna mobil bensin ke mobil hybrid diperkirakan naik sekitar 10,8 persen.
"Di sini kalau misalnya harga mobil hybrid itu turun 10 persen, ada kenaikan permintaan dari yang sebelumnya pengguna mobil bensin ke mobil hybrid sekitar 10,8 persen," paparnya.
Tantangan harga yang relatif tinggi ini juga berkaitan erat dengan minimnya insentif fiskal bagi kendaraan hybrid.
Kondisi tersebut membuat selisih harga antara mobil bensin konvensional dan hybrid masih cukup lebar, sehingga menjadi pertimbangan utama bagi konsumen.
Dengan kombinasi tantangan edukasi, harga jual, dan dukungan insentif yang terbatas, pengembangan kendaraan hybrid di Indonesia dinilai masih membutuhkan strategi jangka panjang.
Meski demikian, hybrid tetap dipandang sebagai teknologi jembatan yang realistis menuju elektrifikasi, terutama di tengah kesiapan infrastruktur kendaraan listrik yang belum sepenuhnya merata.