Ini Alasan Penjualan Mobil PHEV Naik Ribuan Persen Sepanjang 2025

Wisnu Andebar - Minggu, 11 Januari 2026 | 15:00 WIB

JAECOO J8 SHS ARDIS (Wisnu Andebar - )

GridOto.com - Tren kendaraan elektrifikasi di Indonesia memasuki fase baru seiring melonjaknya penjualan mobil berteknologi plug-in hybrid electric vehicle (PHEV) sepanjang 2025.

Kebutuhan akan kendaraan yang lebih efisien, terutama dari sisi biaya operasional dan penggunaan harian, dinilai menjadi faktor utama yang mendorong meningkatnya minat konsumen terhadap segmen ini.

Berdasarkan data wholesales Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO), penjualan PHEV sepanjang Januari hingga November 2025 tercatat mencapai 4.312 unit.

Angka tersebut melonjak tajam lebih dari 3.000 persen dibandingkan penjualan PHEV sepanjang 2024 yang hanya sekitar 136 unit.

Head of Product Jaecoo Indonesia, Ryan Ferdiean Tirto, menilai bahwa pasar PHEV di Indonesia saat ini lebih banyak didorong oleh kebutuhan efisiensi dibandingkan performa semata.

“Menurut kami, pasar PHEV di Indonesia saat ini lebih banyak didorong oleh kebutuhan efisiensi, terutama terkait biaya operasional dan penggunaan harian,” ujar Ryan kepada GridOto.com, Kamis (8/1/2026).

Menurutnya, konsumen membutuhkan kendaraan yang lebih hemat namun tetap praktis dan tidak membatasi jarak tempuh dalam penggunaan sehari-hari.

Meski demikian, performa tetap menjadi salah satu pertimbangan penting dalam keputusan pembelian.

“Konsumen membutuhkan kendaraan yang lebih hemat, namun tetap praktis dan tidak membatasi jarak tempuh. Meski demikian, performa tetap menjadi faktor penting dalam keputusan pembelian,” lanjut Ryan.

Baca Juga: Tahun 2025 PHEV Booming di Indonesia, 2026 Bakal Diserbu Model Baru

Kombinasi antara efisiensi dan performa tersebut coba ditawarkan Jaecoo melalui teknologi Super Hybrid System (SHS).

Ryan menyebut, berbeda dengan teknologi hybrid konvensional yang umumnya menuntut konsumen memilih antara konsumsi energi atau tenaga, SHS dirancang untuk menghadirkan keduanya secara seimbang.

“Melalui teknologi SHS, konsumen tetap dapat menghemat konsumsi energi tanpa mengorbankan performa. Konsumen tidak perlu mengorbankan salah satu aspek,” jelasnya.

Sebagai gambaran, Jaecoo J7 SHS diklaim mampu digunakan untuk kebutuhan berkendara harian dengan jarak sekitar 100 kilometer menggunakan mode EV sepenuhnya.

Dengan begitu, biaya operasional dapat ditekan dibandingkan kendaraan berbahan bakar konvensional.

“Selain efisiensi, SHS juga menghadirkan karakter berkendara layaknya kendaraan listrik, dengan torsi instan dan akselerasi responsif,” tambah Ryan.

Dari sisi pasar, lonjakan penjualan PHEV sepanjang 2025 mulai terlihat sejak pertengahan tahun.

Setelah mencatat 413 unit pada Mei, penjualan melonjak pada Juni hingga mencapai 1.237 unit.

Meski sempat terkoreksi pada Juli dengan 347 unit, tren kembali menguat pada Agustus sebesar 686 unit dan relatif stabil hingga November.

Secara merek, Chery masih menjadi pemimpin pasar PHEV nasional dengan penjualan kumulatif 3.192 unit, disusul Jaecoo di posisi berikutnya dengan total 762 unit.

Agresivitas pabrikan asal China dalam meluncurkan model-model PHEV baru turut mendorong pertumbuhan pasar.

Chery menghadirkan Tiggo 8 CSH dan Tiggo 9 CSH, sementara Jaecoo membawa J7 SHS dan J8 SHS.

Beberapa merek lain seperti Geely dan Wuling juga mulai meramaikan segmen ini melalui Starray EM-i dan Darion PHEV.

Untuk pasar Indonesia, Jaecoo J7 SHS dibanderol Rp 499,9 juta, sementara Jaecoo J8 SHS dipasarkan dengan harga Rp 818 juta on the road Jakarta.