Toyota Siapkan Produksi Sel Baterai di RI, Fokus Awal untuk Mobil Hybrid

Naufal Shafly - Jumat, 9 Januari 2026 | 21:00 WIB

Toyota Kijang Innova Zenix Hybrid (Naufal Shafly - )

GridOto.com – Upaya Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) dalam memperkuat kendaraan elektrifikasi tak hanya berhenti pada peluncuran produk.

Di balik layar, pabrikan asal Jepang ini tengah memacu pengembangan baterai hybrid berbasis lokal sebagai fondasi penting menuju industri otomotif yang lebih mandiri.

Adapun saat ini baterai lithium-ion yang digunakan pada model hybrid Toyota di Indonesia telah dirakit secara lokal, dan memiliki tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) sekitar 21,27 persen.

Namun, TMMIN tak mau berpuas diri dengan capaian tersebut dan berencana memproduksi baterai secara mandiri.

Wakil Presiden Direktur TMMIN, Bob Azam, menjelaskan bahwa tantangan terbesar dalam lokalisasi baterai terletak pada sel baterai itu sendiri.

Alasannya, komponen tersebut menjadi inti dari sistem penyimpanan energi kendaraan elektrifikasi.

“Kalau bicara baterai, kuncinya sebenarnya ada di sel baterai. Komponen lain seperti casing, power control, sensor, itu relatif lebih mudah dilokalkan. Tapi sel baterai ini memang yang paling krusial,” ujar Bob Azam di Bandung, Jawa Barat, Kamis (8/1/2026).

Ia memaparkan, satu paket baterai hybrid tersusun dari sekitar 30 komponen utama.

Dari jumlah tersebut, delapan komponen kini sudah berhasil diproduksi di dalam negeri.

Baca Juga: Harga Spesial Masih Berlaku, Toyota Perpanjang Pre-Book Veloz Hybrid

Dengan skema perhitungan yang berlaku, baterai tersebut telah masuk kategori produk lokal karena proses perakitannya dilakukan di Indonesia, walaupun sel baterai masih didatangkan dari luar negeri.

“Sebenarnya kami sudah ada kerja sama untuk pengembangan sel baterai. Tinggal tunggu waktunya. Lane-nya sudah ada, tapi sementara kita fokus dulu ke hybrid karena jumlah selnya masih lebih sedikit dibanding BEV,” tuturnya.

Tak hanya soal produksi, TMMIN juga mulai menaruh perhatian pada siklus hidup baterai secara menyeluruh.

Bob menilai, meningkatnya populasi kendaraan elektrifikasi di masa depan akan membawa tantangan baru terkait pengelolaan baterai bekas jika tidak diantisipasi sejak awal.

“Ke depan bukan cuma produksi, tapi juga collecting, reuse, dan recycle baterai. Ini bisa menjadi ekosistem baru dan bahkan sumber ekonomi baru,” katanya.

Menurut Bob, penguatan lokalisasi baterai selaras dengan arah pengembangan industri otomotif nasional yang kini tak sekadar mengejar angka produksi, tetapi juga berfokus pada penguatan rantai pasok serta efisiensi skala ekonomi.

Ketergantungan terhadap material impor dinilai menjadi risiko tersendiri di tengah dinamika global yang penuh ketidakpastian.

“Elektrifikasi itu tidak bisa dilepaskan dari baterai. Kalau baterainya bisa kita kembangkan di dalam negeri, maka fondasi industri otomotif kita akan jauh lebih kuat,” kata dia.