"Ya, takut juga namanya banyak kontainer kan itu sering bahaya. Pengendara di sini juga sering menerobos lampu merah," ucap Mualif.
Ia mengatakan harus ekstra hati-hati meski sudah berjalan di atas trotoar, karena kendaraan sering melaju kencang dan berpotensi menyerempet pejalan kaki kapan saja.
Baca Juga: Ladies Sudah Tahu Belum, Kendaraan Ini Prioritas di Persimpangan Tanpa Lampu Merah
Menurut Mualif, kecelakaan paling sering terjadi antara motor dan truk trailer karena keduanya kerap tidak saling mengalah.
Mengenai kondisi tersebut, Kepala Suku Dinas Perhubungan Kota Administrasi Jakarta Utara, Rudy Saptari Sulesuryana mengatakan pihaknya telah melakukan berbagai upaya untuk mengatur lalu lintas di perempatan Cilincing.
Rudy menyebutkan, petugas telah ditempatkan di jam-jam tertentu, terutama saat pembatasan jam operasional kendaraan berat diberlakukan pada pagi dan sore hari, guna menjaga arus lalu lintas tetap kondusif.
Ketika pembatasan jam operasional berlaku, kendaraan besar yang mengangkut BBG dan BBM menjadi satu-satunya truk yang diperbolehkan melintas di Jalan Raya Cilincing bersama sepeda motor dan minibus.
"Selain itu, kami secara internal telah berkoordinasi dengan UP SPLL (Unit Pengelola Sistem Pengendalian Lalu Lintas) dalam hal pengaturan lalu lintas menggunakan APILL (Alat Pemberi Isyarat Lalu Lintas)," tutur Rudy saat dihubungi, (19/1/26).
Sudinhub Jakarta Utara juga bersinergi dengan kepolisian dan Satpol PP untuk mengatur lalu lintas di lokasi tersebut.
Namun, Rudy mengakui petugas menghadapi sejumlah kendala di lapangan.
Baca Juga: Durasi Lampu Merah di Daan Mogot Bikin Ampun, Cewek Nunggu Bisa Sambil Dandan Dulu
"Kesulitan yang sering ditemui di lapangan adalah perilaku mengemudi masyarakat yang kurang berkeselamatan," jelas dia.
Menurut Rudy, banyak pengendara cenderung tidak sabar dan menerobos lampu lalu lintas tanpa mempertimbangkan keselamatan diri maupun pengguna jalan lainnya.