GridOto.com - Lalu lintas di jalur tengkorak Cilincing, Jakarta Utara semrawut.
Lampu merah yang terpasang di perempatan Jalan Cilincing bak tak ada harga dirinya.
Di titik temu arus kendaraan dari Pelabuhan Tanjung Priok, Cilincing, dan Cakung ini, aturan lalu lintas seolah kehilangan makna.
Para pengendara saling beradu klakson untuk berebut jalan di perempatan tersebut secara semaunya, seakan tak ada lagi rambu dan aturan lalu lintas yang harus dipatuhi.
Truk trailer dan kontainer dari arah Pelabuhan Tanjung Priok yang hendak lurus menuju Cilincing atau berbelok ke kanan ke arah Cakung kerap menerobos lampu lalu lintas saat melintas di perempatan ini.
Hal serupa juga dilakukan pengemudi mobil dan pengendara motor dari arah Cilincing menuju Tanjung Priok yang enggan mengikuti lampu merah, meski alat pemberi isyarat lalu lintas (APILL) di lokasi masih berfungsi dengan baik.
Lampu merah di perempatan ini seolah hanya menjadi pajangan, meski secara teknis masih beroperasi.
Baca Juga: Waspada Saat di Cilincing Jakut, Tujuh Titik Jalan Ini Spot Favorit Begal Motor
Kondisi saling menerobos lampu merah membuat motor dan mobil kerap bersinggungan dengan truk di tengah perempatan.
Tak jarang, para pengendara justru terlibat adu mulut, meski sama-sama melakukan pelanggaran lalu lintas.
Tak hanya adu argumen, banyak kendaraan nyaris bertabrakan akibat ketidaktertiban para pengendara dalam mematuhi lampu lalu lintas yang ada.
Bahkan, kecelakaan yang melibatkan motor dan truk trailer kerap terjadi di lokasi ini, hingga membuat perempatan Cilincing dijuluki sebagai jalur tengkorak.
Salah satu sopir truk, Nuratmo (45), mengatakan kondisi semrawut di perempatan Cilincing sudah berlangsung lama dan lampu lalu lintas di lokasi tersebut seolah tak lagi berfungsi.
"Kalau untuk Perempatan Cilincing itu udah dari dulu enggak fungsi," ucap Nuratmo saat diwawancarai, (19/1/26) menukil Kompas.com.
Kondisi itu, menurut dia, membuat pengemudi mobil dan pengendara motor saling menyerobot satu sama lain, sehingga lalu lintas di lokasi menjadi sangat semrawut.
Baca Juga: Jalur Tengkorak Sarangan Telan Korban Jiwa, Vario Dibawa 2 Remaja Alami Tragedi Ini
Tak hanya di satu titik, Nuratmo menyebut lalu lintas di perempatan Kebon Baru, Cilincing, juga tak kalah kacau karena para pengendara tak lagi menghiraukan lampu lalu lintas yang ada.
Para pengendara justru lebih memilih mengikuti arahan pak ogah liar yang berusaha mengatur arus kendaraan di lokasi tersebut.
"Malah Pak Ogah yang mengatur jalan. Ini lah yang seringkali terjadi kemacetan dan kadang kecelakaan," sambung dia.
Pengendara lainnya, Arafiq (46), juga mengungkapkan hal serupa.
Ia menilai, saling menyerobot di perempatan Cilincing sudah menjadi kebiasaan yang dilakukan pengendara setiap hari.
"Dari dulu memang lalu lintasnya begini, saling serobot lampu merahnya juga enggak berpengaruh," tutur Arafiq saat ditemui di lokasi, (19/1/26) menukil Kompas.com.
Arafiq mengakui menjadi salah satu pengendara yang kerap menerobos lampu merah di perempatan tersebut.
Baca Juga: RX-King Dibawa Bocil Pasrah di Kolong Avanza, Petaka Putar Balik di Jalur Tengkorak
Awalnya, Arafiq mengaku takut mengalami kecelakaan jika nekat melanggar aturan lalu lintas.
Namun, karena pelanggaran itu dilakukan banyak pengendara lain, ia merasa terpaksa mengikuti arus pelanggaran tersebut.
"Ya, sudah biasa sih jadi enggak takut. Saya jadi salah satu orang yang menyerobot, karena pas mau sabar orang di belakang udah enggak sabar diklaksonin," ucap dia.
Pengendara lain bernama Syam (42) juga mengaku kerap menerobos lampu lalu lintas karena tekanan dari kendaraan di belakangnya yang tak sabar.
"Saya jujur aja sering terobos, karena kalau enggak saya yang diklaksonin, semuanya pada enggak sabaran, jadi ya enggak ada pilihan lain," ungkap Syam.
Syam mengatakan, saking seringnya terjadi kemacetan di perempatan tersebut, ia bahkan kerap melawan arah dari Cilincing menuju Tanjung Priok.
Ia mengambil sisi kanan jalan yang seharusnya diperuntukkan bagi kendaraan dari arah Tanjung Priok menuju Cilincing.
Baca Juga: Teka-teki Jalan di Penjaringan Beda Tinggi Selama 11 Tahun, Ternyata Ini Penyebabnya
Meski terbiasa melanggar lampu merah, Syam mengaku sebenarnya merasa sangat takut setiap kali melintasi perempatan Cilincing.
"Kalau dibilang takut mah, takut banget, karena harus papasan sama truk trailer kan kadang kami adu klakson juga, tapi karena sudah biasa mau bagaimana lagi," ujar Syam.
Ia mengaku kerap menyaksikan kecelakaan di lokasi tersebut akibat pengendara yang saling menerobos.
"Iya, karena saling terobos itu jadinya di sini ya sering rawan kecelakaan, paling sering sih truk trailer sama motor," ucap dia.
Warga Cilincing lainnya, Mualif (70), juga mengaku takut ketika harus melintas dengan berjalan kaki di sekitar perempatan tersebut.
"Ya, takut juga namanya banyak kontainer kan itu sering bahaya. Pengendara di sini juga sering menerobos lampu merah," ucap Mualif.
Ia mengatakan harus ekstra hati-hati meski sudah berjalan di atas trotoar, karena kendaraan sering melaju kencang dan berpotensi menyerempet pejalan kaki kapan saja.
Baca Juga: Ladies Sudah Tahu Belum, Kendaraan Ini Prioritas di Persimpangan Tanpa Lampu Merah
Menurut Mualif, kecelakaan paling sering terjadi antara motor dan truk trailer karena keduanya kerap tidak saling mengalah.
Mengenai kondisi tersebut, Kepala Suku Dinas Perhubungan Kota Administrasi Jakarta Utara, Rudy Saptari Sulesuryana mengatakan pihaknya telah melakukan berbagai upaya untuk mengatur lalu lintas di perempatan Cilincing.
Rudy menyebutkan, petugas telah ditempatkan di jam-jam tertentu, terutama saat pembatasan jam operasional kendaraan berat diberlakukan pada pagi dan sore hari, guna menjaga arus lalu lintas tetap kondusif.
Ketika pembatasan jam operasional berlaku, kendaraan besar yang mengangkut BBG dan BBM menjadi satu-satunya truk yang diperbolehkan melintas di Jalan Raya Cilincing bersama sepeda motor dan minibus.
"Selain itu, kami secara internal telah berkoordinasi dengan UP SPLL (Unit Pengelola Sistem Pengendalian Lalu Lintas) dalam hal pengaturan lalu lintas menggunakan APILL (Alat Pemberi Isyarat Lalu Lintas)," tutur Rudy saat dihubungi, (19/1/26).
Sudinhub Jakarta Utara juga bersinergi dengan kepolisian dan Satpol PP untuk mengatur lalu lintas di lokasi tersebut.
Namun, Rudy mengakui petugas menghadapi sejumlah kendala di lapangan.
Baca Juga: Durasi Lampu Merah di Daan Mogot Bikin Ampun, Cewek Nunggu Bisa Sambil Dandan Dulu
"Kesulitan yang sering ditemui di lapangan adalah perilaku mengemudi masyarakat yang kurang berkeselamatan," jelas dia.
Menurut Rudy, banyak pengendara cenderung tidak sabar dan menerobos lampu lalu lintas tanpa mempertimbangkan keselamatan diri maupun pengguna jalan lainnya.
Selain itu, kondisi cuaca yang ekstrem dan tidak menentu juga menjadi tantangan bagi petugas untuk berjaga sepanjang waktu.
Sebab, ia juga harus mempertimbangkan kesehatan anggotanya yang terpapar langsung cuaca ekstrem dan polusi udara.
Rudy mengatakan Jalan Cakung-Cilincing setiap hari dipadati kendaraan angkutan barang berukuran besar dan panjang yang kerap memakan badan jalan.
Di sisi lain, pengendara motor di lokasi tersebut sering melaju dengan kecepatan tinggi dan tidak sabar.
"Pengendara motor memiliki kecenderungan mengendarai kendaraan dengan kecepatan yang relatif tinggi, dengan begitu potensi kecelakaan juga akan meningkat," tutur Rudy.
Ia mengimbau para pengendara agar lebih berhati-hati saat melintas di kawasan tersebut mengingat tingginya lalu lintas kendaraan besar.
| Editor | : | Naufal Nur Aziz Effendi |
KOMENTAR