Menggores Hati, Serang Ibu Pasien Sakit Jantung Tutup Usia di Bak Mobil Pikap Sekam Padi

By , Jumat, 16 Januari 2026 | 16:10 WIB

Khotimah (43), seorang ibu pasien sakit jantung yang meninggal di bak mobil pikap karena tidak mendapat layanan ambulans di Puskesmas Pekuncen, Banyumas, Jawa Tengah (Permata Putra Sejati/TribunJateng.com)

GridOto.com - Cerita menggores hati terjadi di kabupaten Banyumas, Jawa Tengah.

Seorang ibu pasien sakit jantung tutup usia di bak mobil pikap pengangkut sekam padi.

Khotimah (43) tak mendapatkan layanan ambulans Puskesmas untuk mengantarkan ke RSUD Ajibarang.

Warga desa Banjaranyar, Kecamatan Pekuncen, Kabupaten Banyumas itu menghembuskan napas terakhir di atas bak mobil pikap yang menolongnya, (10/1/26).

Kisah ini menjadi viral di media sosial setelah diketahui pasien terpaksa dibawa menggunakan motor secara berboncengan tiga, lalu berpindah ke mobil pikap pengangkut sekam padi karena kondisinya semakin kritis.

Peristiwa bermula sekitar pukul 20.30 WIB saat Nurdiansyah (29), keponakan pasien, membawa Khotimah yang mengalami sesak napas ke Puskesmas Pekuncen 1 menggunakan motor.

Sesampainya di lokasi, petugas medis sempat memberikan bantuan oksigen.

Baca Juga: Pegawai Honorer Puskesmas Tak Tahu Diri, Bawa Ambulans Buat Angkut Barang Ilegal Ini

Nurdiansyah (kiri) ditemani Nasrudin (kanan) yang merupakan suami almarhumah Khotimah pasien jantung yang meninggal karena diduga tidak dapat pelayanan ambulans dari Puskesmas 1 Pekuncen, Banyumas (Permata Putra Sejati/TribunJateng.com)

Namun, kepanikan mulai memuncak ketika pihak puskesmas menyatakan tidak sanggup menangani kondisi pasien dan menyarankan rujukan ke RSUD Ajibarang.

Nurdiansyah mengaku sempat meminta agar bibinya diantar menggunakan ambulans yang terparkir di depan puskesmas.

"Saya lihat ada ambulans dan bilang, 'sudah pakai ambulans saja'. Kemudian dari pihak puskesmas meminta agar pasien masuk lagi ke IGD, katanya mau dipasang infus dan oksigen lagi," ujar Nurdiansyah saat ditemui di kediamannya, (13/1/26) mengutip Kompas.com.

Meski sempat membawa masuk kembali pasien ke ruang IGD, Nurdiansyah merasa prosedur yang dijalankan terlalu lambat dibandingkan kondisi pasien yang kian melemah.