Ia berharap, harga BBM nonsubsidi bisa turun sesuai harapan masyarakat meskipun harga minyak mentah saat ini belum kembali seperti sebelum perang, yakni di kisaran 60 dolar AS per barrel.
“Karena minyak yang sekarang ini diproses bulan yang lalu, dengan harga yang lalu. Dan tentunya kalau turunnya kemarin, beberapa hari yang lalu, kami akan menyesuaikan nanti,” jelasnya.
Sebelumnya, Direktur Eksekutif Core Indonesia, Mohammad Faisal mengatakan, Indonesian Crude Price (ICP) atau harga patokan rata-rata minyak mentah Indonesia sekarang sudah menurun, seiring dengan melemahnya harga minyak dunia.
Menurutnya, ICP saat ini secara year to date atau dihitung dari awal tahun hingga sekarang sudah berada di bawah 84 dolar AS per barel, dari sebelumnya di atas 85 dolar AS per barel.
"Penurunan harga Pertamax itu berpengaruh ke daya beli masyarakat kelas menengah. Jadi sudah semestinya diturunkan untuk mendongkrak daya beli dan harga minyak dunia juga sudah turun," kata Faisal kepada Tribunnews.com, dikutip Rabu (24/6).
Baca Juga: Antrean Pertalite Mengular di Solo, Pertamina Pastikan Stok Aman dan Siap Tambah Pasokan
Policy and Program Director Prasasti, Piter Abdullah menilai, pemerintah memiliki ruang untuk menyesuaikan harga Pertamax mengikuti harga pasar, sekaligus menjaga BBM bersubsidi tetap tepat sasaran.
Menurutnya, penyesuaian semacam itu wajar selama dilakukan secara terukur. "Penurunan harga minyak dunia membuka ruang bagi pemerintah untuk menyesuaikan harga Pertamax," ujarnya.
"Penyesuaian ini bukan mengembalikan ke harga lama, melainkan menurunkan secara wajar mengikuti perkembangan pasar. Seberapa besar angkanya, pemerintah dan Pertamina yang memegang perhitungannya," sambungnya.
| Editor | : | Panji Nugraha |
KOMENTAR