GridOto.com - Akhir-akhir ini BBM Pertamax 92 menjadi perbincangan publik karena tembus diharga Rp 16.250 per liter.
Melihat lika-liku kehadirannya di Indonesia, ternyata Pertamax sempat dijual dengan harga cuma Rp 5.000 per liter.
Sejak diluncurkan pada 10 Desember 1999, BBM ini tidak hanya dikenal karena angka oktannya, tetapi juga karena posisinya sebagai pengganti produk lama, perubahan harganya dari masa ke masa, hingga namanya yang merupakan singkatan dari Pertamina Maximum.
Kehadirannya kala itu menjadi bagian dari upaya Pertamina menghadirkan bahan bakar dengan kualitas lebih baik dan lebih sesuai dengan kebutuhan kendaraan bermesin modern.
Pada akhir 1990-an, teknologi kendaraan mulai berkembang. Banyak kendaraan membutuhkan bahan bakar dengan angka oktan lebih tinggi agar proses pembakaran di mesin berjalan lebih optimal.
Pertamax kemudian hadir sebagai bensin dengan RON 92 yang ditujukan untuk kendaraan dengan kebutuhan bahan bakar lebih baik dibandingkan Premium.
Selain itu, Pertamax juga diperkenalkan sebagai bahan bakar yang lebih ramah lingkungan dibandingkan produk sebelumnya.
Menukil Kompas.cm, berbeda dari pendahulunya, Pertamax hadir tanpa penggunaan Methyl Tert-Butyl Ether atau MTBE, bahan tambahan yang kemudian dinilai kurang ramah lingkungan.
Pertamax berasal dari PT Pertamina (Persero), perusahaan energi milik negara Indonesia.
Produk ini dikembangkan sebagai bagian dari layanan Pertamina di sektor hilir migas, khususnya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat terhadap BBM berkualitas lebih tinggi.
Baca Juga: Kangen Masa Itu, Pertamina Awal Masih Bernama Permina Dengan Logo Kuda Laut Kembar
Sebagai produk Pertamina, Pertamax menjadi salah satu bahan bakar non-subsidi yang dipasarkan di SPBU.
Berbeda dengan BBM bersubsidi yang harganya diatur lebih ketat oleh pemerintah, harga Pertamax dapat menyesuaikan dengan perkembangan harga minyak dunia, nilai tukar rupiah, dan kebijakan perusahaan.
Pertamax hadir sebagai pengganti Premix dan Super TT.
Premix lebih dulu dikenal pada 1990-an, sedangkan Super TT hadir setelahnya.
Kedua produk tersebut kemudian digantikan karena masih menggunakan MTBE, yaitu bahan tambahan yang pada perkembangannya dinilai kurang ramah lingkungan.
Pertamax kemudian diposisikan sebagai bahan bakar yang lebih baik dari sisi kualitas dan lebih sesuai dengan standar kendaraan modern.
Karena itu, kehadiran Pertamax bukan hanya menjadi pergantian nama produk, tetapi juga bagian dari perubahan standar kualitas BBM di Indonesia.
Nama Pertamax merupakan singkatan dari Pertamina Maximum.
Nama ini mencerminkan posisi Pertamax sebagai produk BBM Pertamina yang menawarkan kualitas lebih tinggi dibandingkan bahan bakar dengan oktan lebih rendah.
Dengan RON 92, Pertamax dirancang untuk membantu pembakaran mesin menjadi lebih sempurna.
Baca Juga: Salut, Warga Bengkulu Ini Sulap Sampah Jadi BBM Setara Solar dan Pertamax
BBM ini juga cocok digunakan pada kendaraan yang membutuhkan bahan bakar dengan angka oktan lebih tinggi agar performa mesin tetap terjaga.
Jejak harga Pertamax pada masa awal kemunculannya tidak mudah ditemukan secara terbuka.
Saat pertama kali diluncurkan pada 1999, perhatian publik lebih banyak tertuju pada kehadirannya sebagai bahan bakar baru yang lebih ramah lingkungan dan sesuai untuk kendaraan bermesin modern.
Dalam perjalanan berikutnya, Pertamax tercatat pernah berada di kisaran Rp 5.000 per liter pada pertengahan 2000-an.
Angka ini kerap menjadi pembanding ketika melihat harga Pertamax hari ini, meski tidak bisa langsung disebut sebagai harga saat produk tersebut pertama kali diluncurkan.
Sebagai BBM non-subsidi, harga Pertamax memang tidak berdiri sendiri.
Perubahannya mengikuti banyak faktor, mulai dari harga minyak mentah dunia, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS, biaya distribusi, hingga kebijakan penyesuaian harga dari Pertamina.
Karena itu, perjalanan harga Pertamax dari masa ke masa ikut mencerminkan dinamika energi dan ekonomi Indonesia.
Perjalanan harga Pertamax tidak selalu berjalan dalam garis yang sama.
Sebagai BBM non-subsidi, nilainya terus menyesuaikan dengan berbagai dinamika, mulai dari pergerakan harga minyak mentah dunia hingga kondisi ekonomi global.
Baca Juga: Sedikit yang Tahu, Begini Ciri-ciri Pertamax Atau Pertalite Mulai Basi
Salah satu penyesuaian harga yang cukup menyita perhatian publik terjadi pada 1 April 2022.
Pada periode tersebut, harga Pertamax yang sebelumnya berada di kisaran Rp 9.000-Rp 9.400 per liter naik menjadi sekitar Rp 12.500-Rp 13.500 per liter, tergantung wilayah.
Penyesuaian itu berlangsung di tengah lonjakan harga energi dunia yang turut memengaruhi biaya penyediaan BBM.
Dalam tahun-tahun berikutnya, harga Pertamax kembali mengalami sejumlah penyesuaian.
Ada kalanya naik, ada pula saat turun, mengikuti perkembangan pasar energi global serta kebijakan yang diterapkan Pertamina.
Dengan demikian, perubahan harga Pertamax menjadi bagian dari dinamika yang melekat pada produk BBM non-subsidi.
| Editor | : | Dida Argadea |
KOMENTAR