GridOto.com - Viral belum lama ini seorang pemotor yang meregang nyawa usai terjerat benang layangan.
Korban berinisial C (32) meninggal dunia usai mengalami luka parah di bagian leher pada Kamis (30/4/2026) sore.
Dalam video yang beredar di media sosial, terlihat momen menyayat hati ketika korban masih berusaha meminta pertolongan sebelum akhirnya tak sadarkan diri di atas motornya.
Terkait peristiwa ini, Bupati Karawang, Aep Syaepuloh ikut memberikan tanggapan.
Ia menyampaikan rasa belasungkawa sekaligus menekankan kalau kejadian ini harus menjadi pelajaran penting bagi semua pihak.
“Ini berita duka. Kami turut berbelasungkawa, dan mudah-mudahan kejadian seperti ini tidak terulang lagi,” ujarnya, Jumat (1/5/2026).
Sebagai tindak lanjut, Aep berencana mengadakan rapat bersama jajaran pemerintah daerah guna membahas penertiban penggunaan benang layangan berbahaya, khususnya jenis gelasan yang dikenal tajam dan berisiko tinggi.
Ia menjelaskan bahwa bermain layang-layang merupakan tradisi yang sudah lama ada di masyarakat.
Baca Juga: Kabel WiFi Jadi ‘Jebakan’ di Jalan, Pasutri Bermotor di Sragen Tuntut Rp 20 Juta
Namun, penggunaan benang gelasan dinilai sudah melewati batas karena dapat membahayakan keselamatan, terutama bagi pengendara di jalan.
“Yang paling berbahaya itu gelasan tebal. Ini yang akan kita batasi,” tegasnya melansir WartaKota.
Pemerintah, lanjutnya, tidak akan melarang aktivitas bermain layang-layang secara keseluruhan.
Namun, pembatasan terhadap jenis benang tertentu akan segera diterapkan demi mencegah kejadian serupa.
Sementara itu, pihak kepolisian masih melakukan penyelidikan untuk memastikan penyebab pasti kejadian tersebut.
Kasi Humas Polres Karawang, Ipda Cep Wildan, mengungkapkan bahwa insiden terjadi sekitar pukul 15.30 WIB di Jalan Dusun Kedung Waringin, Desa Kutapohaci.
Korban ditemukan dalam kondisi tidak sadar dengan luka parah di leher.
Baca Juga: Ranjau Kabel WiFi di Pondok Labu Jaksel, Dagu dan Leher Pemotor Terjerat Sampai Memar Merah
Ia sempat dilarikan ke rumah sakit, namun nyawanya tidak berhasil diselamatkan.
Berdasarkan keterangan saksi, korban sempat berteriak panik yang diduga karena terkena benang layangan sebelum akhirnya kehilangan kesadaran.
Keluarga korban menerima kejadian ini sebagai musibah dan menolak dilakukan autopsi.
Meski begitu, polisi tetap mengumpulkan informasi dan bukti untuk memastikan tidak ada faktor lain di balik peristiwa tersebut.
Kejadian ini menjadi peringatan serius bagi masyarakat.
Di balik ramainya permainan layang-layang, terdapat risiko yang tidak terlihat namun sangat berbahaya.
Tragedi ini diharapkan menjadi pelajaran agar tidak ada lagi korban di masa mendatang.
| Editor | : | Dida Argadea |
KOMENTAR