Dengan menahan harga jual, daya beli masyarakat diharapkan tetap terjaga di tengah kondisi ekonomi yang dinamis.
“Itu mungkin bisa diserap dengan beberapa peningkatan yang dilakukan di dalam manufaktur proses dan juga di dalam distributor proses, dan tidak akan membebankan diler juga,” ucap Frans melansir Kompas.com.
Langkah tersebut sekaligus menunjukkan upaya Hyundai dalam menyeimbangkan efisiensi bisnis dan kepentingan konsumen.
Tidak hanya pembeli, jaringan diler juga dipastikan tidak akan terbebani oleh kenaikan biaya produksi.
Terkait durasi kebijakan ini, Hyundai menyatakan akan terus mempertahankannya selama memungkinkan dengan mempertimbangkan kondisi industri dan kepentingan konsumen.
“Kita akan terus lakukan demi konsumen kami, jadi agar industri otomotif kita juga tetap stabil,” katanya.
Baca Juga: Servis di Bengkel Resmi, Hyundai Kini Sediakan Mobil Pengganti, Ini Syaratnya
Seperti diketahui, industri otomotif nasional saat ini kembali menghadapi berbagai tantangan.
Selain dampak krisis cip semikonduktor yang mulai mereda, kini muncul tekanan baru dari dinamika logistik global dan kelangkaan material plastik teknis.
Krisis plastik global yang dipicu kenaikan harga bahan baku petrokimia serta hambatan distribusi menjadi isu penting bagi kelangsungan produksi.
Di tengah kondisi tersebut, keputusan Hyundai untuk menahan harga menjadi langkah strategis dalam menjaga daya beli sekaligus stabilitas pasar otomotif di Indonesia.
| Editor | : | Naufal Nur Aziz Effendi |
KOMENTAR