Bahkan menurutnya, base oil sintetik yang diproduksi di Dumai sudah masuk kategori Group 3+, yang memberikan keunggulan kompetitif bagi pelumas sintetik Pertamina di pasar.
“Jadi kalau sintetik ada namanya Group 3+, kalau yang dari Dumai itu Group 3+ jadi sebenarnya kami punya keunggulan kompetitif terutama di pelumas sintetik,” kata Nugroho.
Selain memastikan kebutuhan dalam negeri terpenuhi, Pertamina Lubricants juga masih menjalankan aktivitas ekspor ke berbagai negara.
Saat ini, produk pelumas perusahaan tersebut telah dipasarkan ke sekitar 17 negara.
Namun Nugroho mengatakan strategi ekspor kini lebih difokuskan pada pasar-pasar yang sudah menjadi prioritas pengembangan perusahaan.
“Kalau ekspor juga depend on ya, tergantung juga. Kami masih stay (ekspor) ke 17 negara, karena kami fokus untuk development di market yang 17 itu,” ujarnya.
Beberapa negara tujuan ekspor tersebut antara lain Australia, Thailand, Afrika Selatan, Nigeria hingga Jepang. Selain itu, kawasan Timur Tengah juga masih menjadi salah satu tujuan pasar.
Nugroho mencontohkan salah satunya adalah Yaman, yang hingga saat ini aktivitas ekspornya masih tetap berjalan meskipun situasi geopolitik di kawasan tersebut terus dipantau.
“Yaman itu masih berjalan, tetapi dengan kondisi ini ya masih kami maintain saja sifatnya,” pungkasnya.
| Editor | : | Dida Argadea |
KOMENTAR