GridOto.com - Pertumbuhan pasar mobil listrik di Indonesia dinilai membawa dampak positif bagi industri ban nasional.
Presiden Direktur Bridgestone Indonesia, Mukiat Sutikno, menyebut meningkatnya populasi kendaraan listrik justru membuka peluang baru, baik dari sisi produk maupun lapangan kerja.
“Kehadiran mobil listrik membawa dampak positif dengan terbukanya lapangan pekerjaan dan memberikan konsumen pilihan mobil yang lebih beragam,” ujar Mukiat kepada GridOto.com, Jumat (23/1/2026).
Mukiat menjelaskan, secara kasat mata tidak ada perbedaan mencolok antara ban mobil listrik dan mobil konvensional.
Namun, terdapat karakter teknis khusus yang harus disesuaikan, terutama karena bobot kendaraan listrik yang lebih besar akibat penggunaan baterai.
“Secara visual, tidak ada perbedaan antara ban EV dan mobil konvensional. Perbedaannya ada pada load index karena bobot mobil listrik lebih besar,” kata Mukiat.
Selain itu, ban untuk mobil listrik umumnya dilengkapi material foam atau busa di bagian dalam untuk meredam kebisingan selama berkendara.
Seiring tren elektrifikasi yang terus meningkat, Bridgestone mengklaim telah lebih dulu mengantisipasi kebutuhan tersebut.
Sejak 2023, perusahaan telah menghadirkan jajaran produk yang mendukung kendaraan listrik melalui teknologi ENLITEN.
Baca Juga: Tak Melulu Jual Ban, Bridgestone Indonesia Bantu Korban Bencana Sumatera dan Gelar RSSP 2025
“Sejak 2023, kami sudah memiliki produk dengan teknologi ENLITEN yang EV-ready. Baik Ecopia EP300 maupun Turanza 6 merupakan pilihan optimal untuk EV,” ucap Mukiat.
Data penjualan menunjukkan pertumbuhan mobil listrik di Indonesia memang melesat signifikan.
Sepanjang 2025, penjualan mobil listrik menembus 103.931 unit atau berkontribusi lebih dari 12 persen terhadap total wholesales nasional.
Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), angka tersebut melonjak 141 persen dibandingkan 2024 yang masih berada di level 43.188 unit.
Di tengah pertumbuhan tersebut, Bridgestone tetap melihat dinamika ekonomi sebagai tantangan utama industri ban saat ini.
Namun, perusahaan memilih fokus pada penyesuaian produk dan layanan retail agar tetap relevan dengan kebutuhan konsumen.
“Tantangan terbesar adalah perubahan ekonomi, namun fokus kami adalah bagaimana menghadirkan produk dan layanan toko retail yang sesuai dengan permintaan konsumen,” kata Mukiat.
Ia juga menilai masuknya merek-merek ban baru ke pasar domestik bukan ancaman, melainkan bagian dari ekosistem industri yang sehat.
“Kami meyakini hadirnya merek ban baru akan membawa dampak positif dengan membuka lebih banyak lapangan kerja serta memberikan konsumen pilihan ban yang lebih beragam di pasar,” pungkasnya.
| Editor | : | Panji Nugraha |
KOMENTAR