"Pertama, sejak tanggal 26 November lalu, mobil tersebut sudah terjebak di jalur itu di Kecamatan Pantan Cuaca," ujar Muhaimin saat dihubungi via WhatsApp, (1/1/26) mengutip Kompas.com.
Saat itu, Camat Pantan Cuaca sedang meninjau kondisi masyarakat yang terdampak bencana di Desa Remukut dan Desa Dedingin menggunakan motor, sementara tim BPBK menggunakan mobil double cabin.
Pihak BPBK dan warga sebenarnya telah berupaya mengevakuasi mobil tersebut dari zona bahaya banjir.
Namun, kondisi alam yang ekstrem berupa aliran air berlumpur dan tumpukan batang kayu besar menghambat proses pemindahan.
"Tetapi kondisi banjirnya sangat besar, mobil tidak bisa lewat. Mobil tersebut tidak bisa dievakuasi karena di depan dan belakang mobil itu longsor dan tidak bisa dilewati, badan jalan amblas dan jembatan terputus," papar Muhaimin.
Baca Juga: Ford Fiesta Ungu Hanyut di Sungai Gegerkan Warga, Evakuasi Menegangkan
Sebagai langkah pengamanan darurat, mobil tersebut kemudian diparkir di atas sebuah jembatan yang berada di sekitar Daerah Aliran Sungai (DAS) Tripe dengan harapan aman dari luapan air.
Namun, pada 1 Januari 2026, hujan lebat yang mengguyur Gayo Lues membuat Sungai Tripe meluap hingga merobohkan jembatan tersebut.
"Mobil itu berada di aliran sungai tersebut, sehingga jembatan dimaksud ambruk, sehingga mobil terseret arus," ungkapnya.
Untuk mencegah mobil terseret lebih jauh ke hilir, sejumlah warga berupaya mengamankan posisi kendaraan dengan mengikatnya menggunakan tali kawat sling di aliran sungai.
Muhaimin memastikan tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini karena mobil dalam keadaan kosong.
| Editor | : | Panji Nugraha |
KOMENTAR