Tingkat Polusi di Jakarta Mengancam Kesehatan, Ini Dampaknya Menurut Dokter Spesialis

Harun Rasyid - Kamis, 15 Agustus 2019 | 06:50 WIB
Ilustrasi polusi udara
Kompas.com
Ilustrasi polusi udara

GridOto.com - Sebagai kota metropolitan dengan lalu lintas kendaraan yang begitu padat, Jakarta beberapa waktu lalu mendapat predikat kota berpolusi nomor satu di dunia versi AirVisual.

Dalam website airvisual.com, kadar polusi dikategorikan sangat tidak sehat apabila melebihi angka 150.

Berdasarkan data World Healthy Organization (WHO), 92 persen penduduk dunia saat ini menghirup udara dengan kualitas udara yang buruk.

WHO mencatat setiap tahun ada 7 juta kematian, 2 jutanya terjadi di Asia Tenggara akibat polusi udara yang berada di luar dan di dalam ruangan.

(Baca Juga: Kendaraan Tidak Lolos Uji Emisi, Pajak Kendaraan Tak Bisa Diperpanjang)

Melihat padatnya arus lalu lintas di Jakarta terutama ketika jam berangkat dan pulang kerja, sumber utama polusi di Jakarta diperkirakan berasal dari emisi gas buang kendaraan bermotor.

Disusul polusi dari sektor industri, konstruksi, pembakaran hutan, dan buruknya kualitas udara ini diperparah karena bertepatan dengan musim kemarau panjang.

Menurut dokter spesialis paru dr. Gatot Sudiro Hendarto, Sp.P, mengatakan, buruknya kualitas udara di suatu daerah memperparah kambuhnya penyakit yang mengganggu pernapasan.

"Buruknya kualitas udara selain dapat menimbulkan penyakit, juga bisa memperparah penderita asma atau alergi pernapasan. Dan sekarang kasusnya banyak orang yang terserang batuk," kata Gatot, Rabu (14/8/2019).

(Baca Juga: Ganjil Genap Disebut Tidak Efektif Kurangi Polusi Udara Jakarta)

Gatot melanjutkan, penyakit paling ringan dari udara yang tidak bersih dimulai dari alergi seperti bersin sampai yang penyakit paru obstruktif kronik (PPOK).

"Beda dengan asma atau alergi yang biasanya ada faktor turunan, penyakit lain yang ditimbulkan dari senyawa polutan seperti karbon monoksida, oksida sulfur, hidrokarbon dan lainnya bisa terkena PPOK, ISPA sampai kanker," jelas Dokter Gatot.

Menurut Gatot, dampak dari tingginya jumlah polusi ini diperparah dengan gaya hidup masyarakat yang tidak sehat.

"Mencegah penyakit lebih baik daripada mengobati, jadi kalau polusinya buruk kemudian gaya hidup masyarakatnya tidak sehat resiko terkena penyakitnya besar, contohnya merokok sambil naik motor kan luar biasa itu efeknya buruknya," kata Gatot.

(Baca Juga: Ganjil Genap Selama 15 Jam Kembali Diberlakukan, Mengurangi Kemacetan dan Polusi Udara?)

WHO memperkirakan, penyakit tidak menular seperti stroke, jantung iskemik, PPOK dan kanker paru yang terkait dengan polusi udara telah menyebabkan 62.000 kematian di Indonesia pada tahun 2012.

Agar polusi berkurang, tak adil rasanya kalau hanya mengandalkan kebijakan pemerintah tanpa diikuti kesadaran masyarakat untuk mengurangi polusi itu sendiri.

Mengurangi polusi bisa dengan cara memakai bahan bakar kendaraan berkualitas tinggi, menggunakan transportasi umum yang juga ramah lingkungan atau melakukan penghijauan lingkungan.

Editor : Hendra

YANG LAINNYA

loading
SELANJUTNYA INDEX BERITA
Close Ads X