Sementara untuk perjalanan luar kota, sistem akan mengombinasikan motor listrik dan mesin bensin agar kendaraan tetap nyaman digunakan dalam jarak jauh.
BYD juga mengklaim teknologi DM mampu menghadirkan efisiensi bahan bakar yang lebih optimal dibanding kendaraan hybrid konvensional.
“Teknologi BYD DM mampu menghadirkan jarak tempuh lebih optimal dengan konsumsi bahan bakar hingga 65 km per liter,” ungkap Liu.
Dalam pengembangannya, BYD menghadirkan beberapa jenis teknologi DM, mulai dari DM-i yang berfokus pada efisiensi harian, DM-p untuk performa lebih tinggi, hingga DMO yang dirancang untuk kebutuhan medan lebih menantang.
Untuk pasar Indonesia, BYD juga memperkenalkan filosofi G.A.S.S yang menjadi karakter utama teknologi DM.
G.A.S.S merupakan singkatan dari Gesit, Andal, Senyap, dan Super Irit.
Karakter Gesit diklaim menghadirkan respons tenaga yang instan dan halus, sementara Andal merujuk pada kemampuan sistem Dual Mode beradaptasi dalam berbagai kondisi perjalanan.
Di sisi lain, karakter Senyap disebut mampu menghadirkan kabin yang lebih nyaman dengan minim suara dan getaran.
Sedangkan Super Irit merujuk pada efisiensi energi dan konsumsi bahan bakar yang lebih optimal.
BYD mengklaim biaya energi kendaraan dengan teknologi DM dapat mencapai sekitar Rp 300 per kilometer untuk penggunaan hingga 150 km, sehingga membantu menekan biaya mobilitas harian pengguna.
Baca Juga: Fitur-Fitur BYD Racco Sudah Bocor, Dapat Delapan Fitur Canggih Ini
Melalui pendekatan electric-first hybrid, BYD menghadirkan kombinasi efisiensi kendaraan listrik dengan fleksibilitas penggunaan untuk berbagai kebutuhan perjalanan.
Kehadiran teknologi DM sekaligus memperluas pilihan kendaraan elektrifikasi BYD di Indonesia.
Untuk informasi lebih lanjut mengenai teknologi DM dan lini kendaraan BYD di Indonesia, konsumen dapat mengunjungi akun Instagram @byd_indonesia, Facebook BYD Indonesia, serta kanal YouTube BYD Indonesia.