GridOto.com - Momen libur panjang atau long weekend selalu diikuti dengan lonjakan kepadatan lalu lintas yang masif.
Umumnya suatu daerah pun bakal dipadati banyak mootor atau mobil dari pelat luar kota.
Sayangnya, kenapa ya banyak dari pengendara luar kota itu suka 'ngawur' atau bahkan ugal-ugalan hingga bisa memicu kecelakaan?
Ternyata salah satu pemicu kengawuran itu adalah kondisi mereka yang mungkin belum familier dengan situasi sekitar.
Menurut Oke Desiyanto, Senior Instruktur Safety Riding Astra Motor Jawa Tengah, pengendara yang melintasi wilayah baru biasanya membutuhkan tingkat konsentrasi yang jauh lebih tinggi.
Mereka harus membagi fokus antara menyesuaikan diri dengan rute asing, membaca titik persimpangan, memahami karakter jalan, hingga mencerna arahan dari aplikasi navigasi digital.
Makanya, pengendara lokal pun wajib meningkatkan kewaspadaan karena pola berkendara turis ini lebih sulit diantisipasi.
"Setiap pengendara perlu memiliki empati serta kemampuan membaca potensi risiko di sekitarnya. Pengendara yang sedang mencari arah atau menyesuaikan diri dengan lingkungan baru, tentu membutuhkan ruang dan toleransi dari pengguna jalan lain," buka Oke dalam keterangan resminya.
Menurut Oke, salah satu sebab 'kerandoman' para pelancong ini disebabkan oleh ketergantungan mereka pada aplikasi navigasi seperti Google Maps.
Baca Juga: Selain Debu dan Silau Matahari, Ahli Safety Ingatkan Cuaca Ekstrem Bisa Ancam Nyawa Lewat Hal Ini
Hal ini sering memicu respons berkendara yang terlambat, hingga terjadi rem mendadak saat mereka terlambat mendengar instruksi belok.
Selain rem mendadak, manuver potong jalur secara tiba-tiba tanpa menyalakan lampu sein juga kerap terjadi.
Parahnya, hal itu seringkali hanya demi mengejar pintu masuk tempat kuliner atau lokasi wisata, duh!
Oke pun berbagi tips agar kita sebagai pengendara lokal bisa terhindar dari bahaya yang ditimbulkan para pengendara luar kota.
"Saat berkendara di area perkotaan atau jalur menuju tempat wisata, biasakan melakukan pemindaian visual (scanning) pada pelat nomor kendaraan di depan Anda. Jika melihat pelat luar kota lainnya yang bergerak melambat atau tampak ragu-ragu, segera aktifkan mode waspada tinggi," terang Oke.
Salah satu yang bisa dilakukan adalah dengan menambah jarak aman di belakang kendaraan tersebut.
Jika biasanya kita memberi jarak sekitar 2 detik dengan kendaraan di depan, saat bertemu pengendara pelat luar kota, tambah jarak jadi 3 hingga 4 detik di belakangnya.
Tak kalah penting, jangan pula berada terlalu lama di area blind spot mereka.
"Jangan pernah bertahan terlalu lama di samping belakang mobil, atau bus pariwisata luar kota. Pengemudi yang sedang bingung mencari jalan fokusnya terpecah, dan posisi Anda di area blind spot akan sangat berbahaya jika mereka tiba-tiba berbelok," imbuh Oke.
Jika pengendara dari luar kota ini kerandomannya sudah makin menjadi-jadi, seperti ada yang berjalan zig-zag, atau ragu-ragu di persimpangan, jangan ragu untuk bunyikan klakson demi keselamatan.
Masih menurut Oke, gunakan klakson sebagai penanda keberadaan kita, cukup dengan ketukan klakson pendek sebanyak dua kali.
Karena membunyikan klakson panjang yang provokatif justru bisa membuat mereka panik dan melakukan tindakan keliru.
"Keahlian berkendara bukan hanya soal kemampuan mengendalikan kendaraan, tetapi juga kemampuan memahami situasi, memberi ruang kepada pengguna jalan lain, dan menjaga keselamatan bersama. Dengan sikap saling menghargai, kita dapat menciptakan perjalanan yang aman dan nyaman bagi semua," tutup Oke Desiyanto.