Meski demikian, ia mengakui bahwa angka penjualan nasional sebanyak 1 juta unit kemungkinan belum bisa tercapai pada tahun ini.
Namun, optimisme tetap terjaga seiring dengan strategi agresif para pabrikan dalam menghadirkan produk baru dan berbagai penawaran menarik bagi konsumen.
“Mungkin tahun ini belum bisa kembali ke angka 1 juta, tapi kalau kita lihat dari intensi daripada masing-masing car maker dengan semua produk baru dan memberikan sebuah benefit, kita lihat ini sangat menarik,” tambahnya.
Dari sisi internal, Hyundai justru melihat kondisi saat ini sebagai momentum untuk lebih optimistis terhadap pertumbuhan bisnis.
“Kita malah kita lebih optimis dengan melihat kondisi yang sekarang, walaupun secara ekonomi ataupun business environment-nya tapi kan sekarang sudah mulai kelihatan,” ungkap Frans.
Ia menilai, sejumlah indikator ekonomi turut mendukung pemulihan industri otomotif, seperti pertumbuhan ekonomi yang stabil serta suku bunga yang masih terkendali.
“Kalau kita lihat sekarang secara pertumbuhan ekonomi dikatakan kan setidaknya 5,6 persen. Terus kemudian tadi suku bunga juga belum naik, maksudnya masih ada di angka 4,7 persen,” jelasnya.
Dengan kondisi tersebut, Hyundai berharap industri otomotif nasional dapat terus bergerak positif dan kembali pulih dalam waktu dekat.
“Nah situasi itu semuanya yang kita harapkan bisa membantu ekonomi atau industri kita, otomotif khususnya, dan seluruh maker sekarang kita lihat bukan hanya Indonesia, sudah bergerak untuk bisa meningkatkan (market mereka),” pungkasnya.