Pertamina dan AS Pererat Kerja Sama Energi, Salah Satunya Bahas Impor Minyak Mentah

Ferdian - Senin, 11 Mei 2026 | 16:30 WIB

PT Pertamina (Persero) melakukan pertemuan dengan United States of America (US) Department of Energy (DOE) di Washington DC.

GridOto.com - Baru-baru ini PT Pertamina (Persero) melakukan pertemuan dengan United States of America (US) Department of Energy (DOE) di Washington, DC.

Pertemuan itu adalah tindak lanjut arahan Presiden Prabowo Subianto pascakunjungan kerja ke Amerika Serikat (AS) pada Februari 2026.

Kegiatan itu adalah bagian dari upaya Pertamina untuk memperkuat hubungan Indonesia–AS melalui penjajakan kerja sama strategis di sektor energi.

Pertemuan itu dihadiri oleh Wakil Direktur Utama Pertamina Oki Muraza, Corporate Secretary Pertamina Arya Dwi Paramita, serta sejumlah pejabat DOE, antara lain Deputy Assistant Secretary for Asia and the Americas Elizabeth Urbanas, Deputy Assistant Secretary for International Cooperation Aleshia Duncan, dan Director of Asian Affairs, Margaux Murali.

Pertemuan ini membahas penguatan kerja sama perdagangan energi, keamanan pasokan energi, pengembangan teknologi migas, hingga peluang kolaborasi pengembangan migas nonkonvensional antara kedua negara.

Wakil Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Oki Muraza menyampaikan, AS merupakan salah satu mitra strategis Pertamina dalam mendukung ketahanan energi nasional.

Sementara itu, katanya, Indonesiaadalah salah satu negara dengan pertumbuhan konsumsi energi tercepat di kawasan Asia Pasifik sehingga membutuhkan pasokan energi yang aman, terjangkau, dan berkelanjutan.

Baca Juga: Masih Ditahan Pemerintah, Pertamina Sebut Harga Pertamax Aslinya Segini

“Oleh karena itu, Pertamina terus memperkuat kemitraan strategis dengan AS untuk mendukung keamanan pasokan energi, pengembangan teknologi, serta peningkatan kapasitas sektor energi nasional,” jelasnya mengutip Kompas.com, Senin (11/5/2026).

Saat ini, AS menjadi salah satu pemasok energi utama bagi Pertamina.

Lebih dari 70 persen impor liquefied petroleum gas (LPG) Indonesia berasal dari AS dengan volume mencapai sekitar 5 juta metric ton (MT) pada 2025.

Untuk menjaga kepastian pasokan energi dan mendukung stabilitas harga domestik, Pertamina juga mendorong penguatan kerja sama jangka panjang melalui skema long-term contract (LTC) dengan produsen dan eksportir energi asal AS.

Selain LPG, Pertamina juga terus menjajaki impor minyak mentah dari AS, seiring dengan pengembangan kapasitas kilang nasional melalui program Refinery Development Master Plan (RDMP).

Pertamina melihat bahwa peluang peningkatan pengolahan crude jenis light sweet crude, seperti WTI dari AS.

Dalam pertemuan tersebut, Pertamina dan DOE juga membahas peluang knowledge sharing terkait pengelolaan Strategic Petroleum Reserve (SPR).

Baca Juga: Dukungan Pertamina ke Sean Gelael Buahkan Hasil, Naik Podium di GT World Challenge Asia Mandalika 2026

Kedua pihak turut membicarakan pengembangan infrastruktur penyimpanan energi guna memperkuat ketahanan energi nasional serta mengantisipasi potensi gangguan pasokan global.

Selain penguatan perdagangan energi, Pertamina mendorong kolaborasi dengan perusahaan-perusahaan energi AS dalam pengembangan sumber daya migas nonkonvensional di Indonesia.

Potensi kerja sama mencakup transfer teknologi, pilot project, investasi sektor hulu, pengembangan kapabilitas sumber daya manusia (SDM), hingga teknologi pengeboran dan completion.

Pertamina juga terus memperkuat kolaborasi teknologi dengan perusahaan energi AS pada pengembangan digital oilfield, reservoir optimization, dan advanced drilling technology guna mendukung peningkatan produksi migas konvensional nasional.

Saat ini, Pertamina terus memperkuat kemitraan dengan sejumlah perusahaan energi global asal AS.

Corporate Secretary PT Pertamina (Persero), Arya Dwi Paramita menyatakan, penguatan hubungan energi Indonesia dan AS menjadi momentum penting untuk mendorong kolaborasi yang memberikan nilai tambah bagi ketahanan energi nasional.

“Pertamina memandang kerja sama ini sebagai peluang untuk mempercepat pengembangan teknologi migas, meningkatkan kapasitas SDM, serta membuka akses investasi yang mendukung kemandirian dan keberlanjutan energi nasional,” jelasnya.

YANG LAINNYA