“Konsumsi bahan bakar bisa menjadi lebih boros. Mesin harus bekerja lebih keras untuk menghasilkan tenaga yang sama, sehingga efisiensi hybrid tidak optimal,” ucap Jayan.
Dampak lain yang tak kalah penting adalah pembentukan kerak karbon yang lebih cepat.
Bensin dengan RON rendah cenderung menghasilkan pembakaran yang kurang bersih, sehingga residu lebih mudah menumpuk di ruang bakar maupun injektor.
Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat mempercepat keausan komponen mesin. Knocking yang terjadi terus-menerus juga memberikan tekanan tambahan pada piston, ring, dan klep.
Sebagian besar mobil hybrid modern memang sudah dilengkapi sensor knocking yang mampu menyesuaikan kinerja mesin agar tetap aman meskipun kualitas bahan bakar tidak ideal.
Namun, perlindungan tersebut bukan berarti tanpa risiko.
Baca Juga: Antusiasme Tinggi, Test Drive Mobil Hybrid Ramai di Jabodetabek dan Bandung
Jika penggunaan bensin RON rendah dilakukan terus-menerus, penurunan performa dan efisiensi tetap tidak terhindarkan.
“Sistem hybrid memang membantu mengurangi beban mesin, tetapi tetap tidak menghilangkan kebutuhan akan bahan bakar berkualitas sesuai spesifikasi,” ucap Jayan.
Pada dasarnya, teknologi hybrid dikembangkan untuk menekan emisi gas buang. Tanpa dukungan bahan bakar yang sesuai standar, tujuan tersebut sulit tercapai.
Bahkan, pada mobil hybrid tipe serial sekalipun di mana mesin pembakaran hanya berfungsi sebagai pengisi daya baterai penurunan performa tetap bisa terjadi.
“Penurunan performa juga terjadi pada mobil hybrid model serial, meski mesin bakar hanya sebagai pengisi daya baterai, beban kerja mesin dan emisi akan meningkat,” ucap Jayan.
Sebagai kesimpulan, penggunaan bensin RON rendah pada mobil hybrid masih bisa dilakukan dalam kondisi darurat.
Namun, praktik ini tentu tidak dianjurkan untuk penggunaan jangka panjang.
Demi menjaga performa, efisiensi, serta usia mesin, sebaiknya tetap menggunakan bahan bakar dengan RON sesuai anjuran pabrikan.