GridOto.com - Satu yang ada dalam benak saat jajal Wuling Darion EV dalam program Parade Chindo, senyaman apa sih menggunakan mobil ini?
Pertanyaan ini terjawab setelah 5 hari jajal MPV EV seharga Rp 459 juta ini.
Jujur saja, ini pertama kali saya menjajal mobil listrik dalam jangka waktu yang cukup lama.
Sebelumnya, saya hanya menjajal saat test drive baik saat peluncuran perdana maupun ada event-event Otomotif.
Tentunya, pengalaman yang sebentar saat jajal di momen itu tidaklah selengkap saat di Parade Chindo.
Saat pertama masuk ke dalam kabin sopir, terasa kenyamanannya.
Kursi mudah disesuaikan maju-mundur dengan Electric Seat Adjustment.
Cukup dengan menekan tombol yang berada di samping kanan tempat duduk, saya bisa menyetel sesuai dengan kenyamanan yang diinginkan.
Kenyamanan ini semakin terasa ketika, saya yang rutin membawa ibu untuk kontrol ke rumah sakit pasca operasi di kaki.
Dengan kondisi kaki ibu yang susah menekuk, kursi tengah Darion EV sangat nyaman baginya berselonjoran.
"Enak ya lega, kaki mama gak sakit karena gak perlu ditekuk," begitu komentar ibu saya yang pertama kali menumpang mobil ini.
Di kursi bagian tengah, seperti di kursi sopir juga telah mengadopsi Electric Seat Adjustment.
Sehingga saya tidak perlu turut membantu ibu untuk menyesuaikan posisi duduknya yang selama ini saya lakukan di mobil yang saya punya.
Cukup beliau tekan tombol pengaturan sesuai kenyamanannya.
Ketika sampai di rumah sakit pun, kenyamanan tetap berlanjut, dengan fitur AutoComfort Sliding Door mudah bagi saya maupun penumpang di tengah untuk menggeser pintu.
Buka-tutup pintu bagasi untuk mengambil kursi roda pun juga mudah.
Di luar dari itu semua, sebagai mobil dengan genre mobil keluarga, Wuling Darion EV ini bisa diandalkan untuk perjalanan yang cukup jauh.
Sebab, Darion EV bisa berjalan hingga 540 km, klaim itu tak lepas dari kapasitas baterai besar yang mencapai 69,2 kWh.
Klaim ini bisa mendekati kebenaran, sesaat setelah memegang Darion yang saat itu kapasitas baterai terisi 30 persen, lalu segera saya charge ke SPKLU dengan jumlah kwh sekitar 40.
Lantas baterai terisi sekitar 86 persen dengan kilometer yang bisa ditempuh pada dashboard terlihat 465 kilometer.
Selama 5 hari penggunaan sejauh sekitar 250 kilometer keliling posisi kapasitas baterai tinggal 41 persen dengan jarak yang masih tersisa di angka 221 km.
Artinya selama pemakaian dengan asumsi baterai terisi 86 persen (59,512 kwh) ke 41 persen (28,372 kwh) berarti untuk menempuh jarak 250 km diperlukan 31,14 kwh atau 8 km per kwh.
Angka itu saya dapat dengan penggunaan kombinasi dimana dipakai untuk dalam kota dengan kondisi kemacetan dan jalur tol menuju BSD yang cukup lenggang.
Cukup murah dengan jarak tempuh 8 km dengan harga 1 kwh sekitar Rp 2.600 rupiah di SPKLU.